Pesanan ekspor justru terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut, sekaligus mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.

Hambatan pada arus perdagangan global ini terjadi akibat meluasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sektor industri yang berorientasi ekspor menjadi pihak yang paling terdampak oleh gangguan rantai pasok global tersebut.

"Penurunan permintaan eksternal menjadi perhatian utama, terutama bagi industri manufaktur yang berorientasi ekspor dan sangat bergantung pada rantai pasok global serta pasar luar negeri," sebut Tim Makro Samuel Sekuritas dalam laporannya.

Keberlanjutan pemulihan manufaktur diprediksi sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, ketepatan sasaran kebijakan fiskal pemerintah, serta perbaikan akses pembiayaan guna mendorong roda produksi dan investasi baru.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026

Secara keseluruhan, indikator ekonomi yang ada saat ini mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang berada dalam fase perlambatan temporer setelah membukukan pertumbuhan yang kuat pada kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan kompilasi data Bloomberg, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan tumbuh di level 5% secara tahunan (yoy).

Proyeksi ini menunjukkan penurunan dibanding capaian kuartal I-2026 yang tumbuh sebesar 5,61%.

Hasil survei bulanan Bloomberg pada awal Juni memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional bertahan di angka 5% pada kuartal III-2026, sebelum akhirnya melambat menjadi 4,69% pada kuartal IV-2026.

>>> Pemerintah Berencana Bebaskan PPN Tiket Pesawat Domestik Demi Tekan Harga

Meskipun tekanan inflasi dan penurunan keyakinan konsumen berdampak nyata pada daya beli rumah tangga, fondasi ekonomi dinilai belum mengalami kerusakan struktural berkat perbaikan PMI manufaktur serta keberlanjutan proyek strategis pemerintah.