Dinamika CDS saat ini lebih mencerminkan peringatan dini ketimbang tanda bahaya makroekonomi.

Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai kenaikan CDS menunjukkan persepsi risiko Indonesia meningkat. Namun, level tersebut masih jauh dari kondisi tekanan serius.

"Asal perbandingan, saat pandemi CDS Indonesia sempat menembus 300 bps.

Jadi, pasar masih menilai Indonesia sebagai negara yang layak investasi, meskipun premi risiko yang diminta investor kini lebih tinggi," jelas Budi.

Tekanan jangka pendek pada pasar keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut akibat pelemahan rupiah dan tingginya bunga obligasi.

Di sisi lain, koreksi harga instrumen keuangan membuka peluang valuasi menarik untuk investasi jangka panjang.

"Dengan kata lain, risiko meningkat, tetapi potensi imbal hasil yang ditawarkan juga mulai membesar," kata Budi.

>>> Mendikdasmen Abdul Mu'ti Laporkan Capaian Program Pendidikan ke Presiden

Sentimen harga saham domestik yang murah juga diakui pelaku pasar modal. Namun, tingkat harga yang rendah belum mampu mendorong aliran dana asing masuk secara masif dalam waktu dekat.

Kondisi lesu ini dipengaruhi minimnya sentimen positif jangka pendek dan rendahnya kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Strategi investasi defensif kini menjadi pilihan utama.

"Indonesia saat ini berada pada fase selective value, mengedepankan strategi defensif, dan identifikasi melalui pendekatan bottom-up pada saham dan sektor pilihan menjadi sangat krusial," kata Caroline Rusli, Senior Portfolio Manager Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Peluang keuntungan di pasar finansial domestik tetap terbuka lebar melalui strategi alokasi aset yang cermat.

SBN tenor pendek hingga menengah kini mulai menarik minat pasar karena tingginya tingkat kupon.

Sebaliknya, obligasi negara jangka panjang membawa risiko lebih besar akibat rentan terhadap inflasi dan beban pembiayaan APBN. Untuk pasar ekuitas, pemodal asing masih menunggu kejelasan stabilitas mata uang.