Pada 15 April 2026, IDE Katadata Future Forum 2026 digelar di Jakarta. Forum ini menjadi ajang peluncuran laporan Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCHI) edisi 2 2026.

Laporan tersebut mengupas kondisi kelas menengah Indonesia saat ini. Bukan sekadar angka, tetapi gambaran kehidupan nyata yang mungkin dirasakan sehari-hari.

>>> Kenaikan Harga Pertamax Mendadak Picu Tekanan Psikologis Masyarakat

Siapa Sebenarnya Kelas Menengah?

Menurut BPS, kelas menengah adalah mereka dengan pengeluaran per kapita Rp2 juta hingga Rp10 juta per bulan. Katadata Insight Center membaginya menjadi lower middle, middle, dan upper middle.

Pada 2024, kelompok ini menyumbang lebih dari 80 persen konsumsi rumah tangga. Namun, jumlah kelas menengah justru menurun dalam lima tahun terakhir.

Sebaliknya, kelompok aspiring middle class—yang berupaya naik kelas—meningkat. Artinya, terjadi pergeseran ke bawah.

Empat Keresahan Utama

Survei Katadata Insight Center menemukan empat sumber keresahan. Pertama, penghasilan tidak lagi cukup karena biaya hidup naik lebih cepat.

Kedua, akses hunian semakin sulit. Ketiga, biaya pendidikan anak menjadi beban.

Keempat, kekhawatiran akan kesehatan di masa tua.

Keempat hal ini saling berkaitan dan membentuk tekanan berlapis dalam kehidupan sehari-hari.

>>> PB Akuatik Indonesia Turunkan 6 Perenang di AOWSC 2026 Bali

Di sisi lain, indikator ekonomi makro menunjukkan kondisi stabil. Namun, ada paradoks antara data dan pengalaman masyarakat.

Fenomena ini mengingatkan pada Chile 2019, di mana statistik baik tetapi ketimpangan tidak tercermin dalam angka.

Meski menghadapi tekanan, kelas menengah Indonesia menunjukkan daya tahan. Banyak yang mengelola keuangan lebih cermat, berinvestasi, dan mencari side hustle.

Pola konsumsi juga berubah menjadi lebih selektif. Hal ini menunjukkan upaya untuk bertahan dan mencari jalan keluar.

Pengalaman negara lain menunjukkan keresahan yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi masalah besar. Namun, ini juga peluang perbaikan.

Indonesia berada di titik penting dengan bonus demografi. Diperlukan kebijakan yang mendukung pemerataan akses terhadap perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

>>> Charles Leclerc Kena Penalti 20 Detik di F1 GP Miami

Di tengah dinamika ini, penting untuk sesekali merenung. Memahami realitas bukan hanya soal data, tetapi juga merasakan dan memaknainya.