Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut pemerintah tidak percaya terhadap lembaga pemeringkat.

Menurut Purbaya, yang terjadi adalah perbedaan penilaian antarlembaga. Ia menilai beberapa lembaga pemeringkat terlalu dini dalam menilai fundamental ekonomi Indonesia.

>>> Cadangan Nikel Saprolit Sisa 9–15 Tahun, APNI Ingatkan Pemerintah Hati-Hati Longgarkan RKAB

"Sebelumnya kan lembaga-lembaga pemeringkat menyebutkan kita fundamentalnya jelek. Moody's, Fitch, segala macam," ujar Purbaya di Istana, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Namun, penilaian terbaru dari S&P Global Ratings menunjukkan kondisi lebih positif. Lembaga itu mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil.

"Ternyata S&P keluar kan bagus, outlook stable. Jadi emang kondisi ekonomi kita tidak seburuk yang dibilang oleh lembaga pemeringkat sebelumnya," katanya.

>>> Spesifikasi Snapdragon 4 Gen 6 Bocor: GPU Adreno 6 dan Dukungan LPDDR5

Purbaya menjelaskan, jika S&P juga memberikan penilaian negatif, pemerintah perlu mencari faktor pembuktian. Namun, S&P melihat adanya perbaikan fundamental ekonomi nasional.

"Tapi S&P kan cukup jeli, emang kita gerakannya ke arah yang positif," ujarnya.

Ia menilai sejumlah indikator ekonomi mendukung penilaian tersebut. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan defisit anggaran terkendali di tengah gejolak global, termasuk kenaikan harga minyak dunia.

>>> Bahlil: Putusan MK Tak Gugurkan IUP Ormas dan Kampus

"Itu harusnya emang dinilai seperti itu. Jadi bukannya enggak percaya, tapi emang ada sebagian melakukan penilaian terlalu dini," tutur Purbaya.