Sikap Tegas Presiden Suriah Terkait Kerjasama Keamanan dan Israel
Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa dikabarkan mempertimbangkan opsi kerja sama keamanan dengan pihak Israel.
Langkah tersebut dinilai mampu membuka jalan bagi perdamaian komprehensif antara Suriah dan Israel.
>>> Siswi SD Menangis Jadi Korban Bully Teman Sebaya Soal Rumah dan Ayah
Kendati demikian, kesepakatan itu dipastikan tidak akan mengorbankan hak kedaulatan Suriah atas Dataran Tinggi Golan.
Wilayah strategis tersebut diketahui telah direbut dan diduduki oleh Israel sejak konflik pecah pada tahun 1967.
Sharaa menyebutkan bahwa pemerintahannya sedang berupaya melibatkan berbagai negara demi menekan pihak Israel.
Tekanan internasional itu diharapkan mampu membuat Israel mengadopsi kebijakan yang jauh lebih seimbang terhadap Suriah.
Dalam sebuah wawancara khusus, Sharaa menegaskan bahwa negaranya saat ini secara konsisten memilih untuk menghindari konfrontasi.
Namun, ia tetap menolak dengan tegas gagasan untuk membuka hubungan diplomatik penuh ataupun melakukan normalisasi.
>>> Solusi Suntikan Dana Pusat Antisipasi Masalah Gaji ASN Daerah
Pendekatan luar negeri Suriah didasarkan pada prinsip tidak adanya masalah mendasar dengan negara-negara tetangga.
Akan tetapi, normalisasi dengan Israel sama sekali tidak pernah dimasukkan ke dalam rencana resmi pemerintahan Suriah.
Sharaa menilai situasi negaranya sangat berbeda dengan negara-negara lain yang telah menandatangani kesepakatan damai.
Beberapa waktu lalu, ia sempat diminta bergabung dengan Abraham Accords saat bertemu dengan Presiden Donald Trump.
Perjanjian yang ditengahi oleh Amerika Serikat tersebut melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.
>>> Andrea Pirlo Dijegal dari Kursi Pelatih Timnas Italia Akibat Isu Duta Rumah Judi
Namun, tawaran untuk mengikuti jejak negara-negara penandatangan kesepakatan Abrahamik itu ditolak secara langsung.
Suriah memiliki perbatasan langsung dengan Israel dan wilayahnya mengalami pendudukan berkepanjangan di Dataran Tinggi Golan.
Karena alasan tersebut, Suriah tidak akan memasuki jalur negosiasi secara langsung untuk saat ini.
Prioritas utama Suriah saat ini adalah menghidupkan kembali Perjanjian Pelepasan yang ditengahi oleh PBB.
Pengaturan serupa dibutuhkan guna menstabilkan wilayah Suriah selatan di bawah pengawasan ketat internasional.
Perjanjian historis tersebut ditandatangani pada tanggal 31 Mei 1974 di Jenewa dengan disaksikan oleh perwakilan PBB.
>>> Penyebab Hepatitis Sulit Terdeteksi Sejak Dini Menurut Medis
Dokumen itu mencakup kewajiban gencatan senjata serta pemisahan pasukan militer di zona penyangga netral.
Update Terbaru
Alasan Trump Ngotot Jual Jet F-35 ke Turki Walau Diprotes Israel
Selasa / 28-07-2026, 08:51 WIB
Fakta Sejarah Singkatan Nama Depok Warisan Cornelis Chastelein
Selasa / 28-07-2026, 08:43 WIB
Emma Roberts dan Cody John Resmi Menikah Usai 4 Tahun Pacaran
Selasa / 28-07-2026, 08:43 WIB
Moisturizer Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun dan Rekomendasi Pilihan
Selasa / 28-07-2026, 08:42 WIB
Panduan Lunasi SPayLater Pakai Virtual Account Bank Mandiri
Selasa / 28-07-2026, 08:37 WIB
Cara Praktis Cek NISN Online 2026 Tanpa Harus Datang ke Sekolah
Selasa / 28-07-2026, 08:36 WIB
Pengacara Febrie Adriansyah Buka Suara soal Sutrimo yang Tewas Misterius
Selasa / 28-07-2026, 08:35 WIB
Gebrakan Prabowo Bentuk URI Dikritik Ekonom UI Jadi Universitas Ruwet
Selasa / 28-07-2026, 08:35 WIB
Kinerja Keuangan IOTF Tumbuh Positif Paruh Pertama 2026
Selasa / 28-07-2026, 08:28 WIB
Honda NX500 Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Harga dan Spesifikasinya
Selasa / 28-07-2026, 08:28 WIB
Polemik Kesaksian Jack Smith Berujung Laporan Kehakiman
Selasa / 28-07-2026, 08:22 WIB
Ocean Casino Resort Menghentikan Operasi Setelah Kebakaran Pagi Hari
Selasa / 28-07-2026, 08:22 WIB
Porsche Carrera GT Dimodifikasi Ekstrem Gemballa Mirage GT Dilelang
Selasa / 28-07-2026, 07:56 WIB
Fase Koreksi IHSG Berlanjut, Simak Proyeksi dan Saham Pilihan
Selasa / 28-07-2026, 07:56 WIB







