Harga energi dunia mengalami pelemahan seiring munculnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kesepakatan tersebut dinilai dapat membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis pasokan minyak mentah global.

>>> BRI Siapkan Rp500 Miliar untuk Buyback Saham, Jaga Stabilitas Pasar

Informasi ini dilansir dari Investasi pada Jumat (12/6/2026). Dinamika geopolitik ini turut memengaruhi proyeksi pasokan minyak dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

Analis: Sentimen Masih Spekulatif

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa harga energi turun merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump.

Trump menyebut kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, meskipun isyarat tersebut dibantah oleh pihak Iran.

>>> Pemprov DKI Buka Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis Juni 2026

Lukman menambahkan bahwa selama ini pernyataan sepihak dari AS sering tidak terbukti benar. Oleh karena itu, sentimen ini masih sangat spekulatif dan belum bisa dijadikan acuan jangka panjang.

Harapan penurunan harga energi dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi di AS. Hal ini diproyeksikan membuka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga akhir kuartal III 2026, harga minyak mentah WTI diperkirakan bergerak di kisaran US$ 85 hingga US$ 105 per barel.

>>> Mata Uang Asia Menguat Terhadap Dolar AS Sepanjang Pekan Ini

Sementara itu, minyak Brent diproyeksikan pada rentang US$ 88 hingga US$ 108 per barel, dan gas alam di kisaran US$ 3 hingga US$ 4 per MMBtu.