>>> Declan Rice Abaikan Sengatan Matahari demi Fokus Piala Dunia

Ahmad menambahkan, kelompok investor seperti reksadana cenderung lebih sensitif terhadap perubahan profil risiko dan imbal hasil dibandingkan investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun.

Per 4 Juni 2026, reksadana tercatat masih memiliki kepemilikan SBN senilai Rp 259,74 triliun.

Namun, kelompok investor ini cenderung lebih aktif melakukan rotasi portofolio sesuai perubahan kondisi pasar.

Menurut Ahmad, ketika yield SBN belum dianggap cukup menarik dibandingkan instrumen lain, sebagian manajer investasi berpotensi mencari peluang di obligasi korporasi, khususnya yang diterbitkan emiten berperingkat tinggi dan masih menawarkan spread menarik di atas SBN.

Kendati demikian, langkah tersebut tidak bisa diartikan sebagai perpindahan penuh ke obligasi korporasi.

Pasalnya, manajer investasi tetap harus mempertimbangkan risiko durasi, likuiditas, serta potensi redemption saat yield bergerak naik.

"Biasanya yield SBN yang tinggi menjadi peluang bagi investor konservatif seperti asuransi dan dana pensiun untuk masuk.

Sementara manajer investasi tetap akan selektif dengan mempertimbangkan ekspektasi risiko dan arah suku bunga ke depan," ujar Ahmad.

Senada, Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat adanya kecenderungan sebagian investor konservatif mengalihkan dana ke SBN.

Menurutnya, yield SBN yang kini lebih kompetitif, ditambah profil risiko yang lebih rendah, membuat instrumen tersebut semakin menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Ada kecenderungan ke arah tersebut, terutama bagi investor yang lebih konservatif.

>>> 3 Cara Mudah Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dengan Cepat

Yield SBN yang kini lebih kompetitif, ditambah profil risikonya yang lebih rendah, menjadikannya alternatif yang lebih menarik dibanding obligasi korporasi," ujar David.