Penerapan kecerdasan buatan (AI) di sektor pendidikan semakin meluas dan memicu perdebatan. Alpha School, sebuah sekolah swasta di Amerika Serikat, menjadi salah satu institusi yang menerapkan metode ini.

Sekolah tersebut tidak lagi menempatkan guru untuk mengajar di depan kelas.

>>> Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax 32% Jadi Rp16.250 per Liter

Para siswa menggunakan platform AI selama sekitar dua jam setiap hari untuk mempelajari materi inti seperti matematika, sains, dan bahasa.

Dalam sistem ini, peran pendidik dialihkan menjadi pemandu kelas. Tugas mereka kini fokus memberikan motivasi dan mengajarkan keterampilan hidup.

Pihak sekolah mengombinasikan elemen modern dengan metode konvensional, meskipun porsi AI lebih dominan. Setelah sesi digital, siswa mengikuti kegiatan praktik, termasuk pengembangan soft skill dan proyek kewirausahaan.

Kurikulum yang diterapkan mengusung konsep mastery learning yang adaptif. Setiap anak dapat menyesuaikan ritme belajar sesuai kapasitas masing-masing.

Pendiri Alpha School mengklaim metode ini membuat siswa menyerap materi dua kali lebih cepat. AI yang digunakan mengumpulkan materi yang diselaraskan dengan kurikulum, bukan dari mesin pencari umum.

Skeptisisme Pakar Terhadap Efektivitas AI

Meskipun menunjukkan efisiensi, sejumlah peneliti mengingatkan perlunya kajian mendalam. Peneliti Charles Logan menilai bimbingan adaptif yang diterapkan masih berupa eksperimen terbuka.

"Penelitian tentang pembelajaran personalisasi dan AI masih menunjukkan hasil beragam.

>>> Ade Jona Prasetyo Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BPP Hipmi

Pendekatan Alpha Schools terhadap bimbingan adaptif masih seperti eksperimen terbuka dan belum didukung bukti kuat," kata Charles Logan.

Konsultan pendidikan Stephanie Sewell menyoroti dampak pada interaksi sosial anak usia dini. Menurutnya, belajar membaca, menulis, dan matematika dasar yang dialihkan ke konteks daring berisiko mengganggu kemampuan bersosialisasi.