PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Manajemen emiten properti ini berupaya mengoptimalkan efisiensi internal untuk menjaga kinerja perusahaan.

>>> Hong Kong Temukan Lima Kasus Mpox di Sauna Mong Kok

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2026, pendapatan SMRA tumbuh 6,1 persen menjadi Rp2,23 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,10 triliun.

Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas 20,3 persen menjadi Rp189,76 miliar dari sebelumnya Rp238,22 miliar.

Dampak pada Pembiayaan dan Bahan Baku

Kenaikan suku bunga memicu penyesuaian di sektor pembiayaan korporasi, termasuk beban Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pinjaman perbankan, dan biaya pengadaan bahan baku konstruksi.

Direktur Summarecon, Agung Lydia Tjio, menjelaskan situasi ini semakin menantang karena bertepatan dengan eskalasi konflik geopolitik global.

"Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, akan cukup mengelola dengan prudent.

Segala pengeluaran, efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang," katanya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).

Meskipun tekanan eksternal meningkat, manajemen menetapkan strategi penargetan pasar yang spesifik.

>>> Dean Cain Kritik Film Superman James Gunn dan Captain America Terlalu Woke

Selama Januari hingga Mei 2026, pemasaran difokuskan pada produk hunian untuk segmen kelas menengah dan menengah ke atas yang dinilai memiliki daya beli lebih stabil.

Presiden Direktur Summarecon, Agung Adrianto Pitojo Adi, menilai kebijakan bank sentral di sisi lain memberikan dampak positif bagi stabilitas mata uang domestik.

Fleksibilitas regulasi dari pemerintah diharapkan dapat memitigasi risiko penurunan pembiayaan perumahan.

"Sehingga ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu," katanya.

Langkah taktis perseroan saat ini difokuskan pada penyelesaian proyek-proyek berjalan di berbagai wilayah.

Manajemen mengonsentrasikan seluruh sumber daya untuk memaksimalkan potensi dari sembilan kawasan kota mandiri (township) yang telah dimiliki perusahaan.

>>> Pemerintah Jajaki Pengembangan Bioetanol Terintegrasi di Lampung

"Kami berharap pada tahun ini akan adanya pemulihan daya beli di segmen kelas menengah yang sebelumnya menghadapi tantangan," ujarnya.