Industri properti Indonesia menghadapi tekanan berat sepanjang 2026. Fluktuasi nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik global, dan kenaikan harga bahan baku mendorong biaya pembangunan terus meningkat.

Melemahnya daya beli masyarakat juga menekan permintaan. Penjualan rumah tercatat turun 25,67 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.

>>> Harga Galaxy Z Fold 8 Ultra Mahal? Begini Cara Verizon Bantu Hemat

Namun di tengah perlambatan tersebut, segmen co-living justru menunjukkan pertumbuhan.

Cove, penyedia hunian co-living modern, mencatat kenaikan minat konversi aset menjadi co-living sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Co-Living Jadi Alternatif Investasi

Lonjakan minat ini menunjukkan bahwa investor mulai beralih ke model hunian yang lebih fleksibel.

>>> Samsung Galaxy Z Fold8, Z Fold8 Ultra, dan Z Flip8 Resmi Meluncur, Ini Spesifikasinya

Co-living dinilai mampu memberikan imbal hasil yang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar properti konvensional.

Cove melaporkan bahwa banyak pemilik aset yang sebelumnya ragu kini mulai melirik konversi properti mereka menjadi co-living.

>>> Yusril Pastikan Abdul Karim Palestina Tak Diserahkan Siprus ke Israel

Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan perubahan preferensi hunian masyarakat.