Musim panas yang lebih panjang dan panas mengubah cara hidup masyarakat Asia Tenggara, termasuk harapan mereka terhadap peralatan pendingin di rumah.

Konsumen kini menginginkan perangkat yang hemat energi, tahan lama, dan dirancang khusus untuk kondisi setempat.

>>> Vozinha dan Haaland Raih Jutaan Followers Baru Selama Piala Dunia 2026

Produsen China merespons dengan lebih dari sekadar produk terjangkau. Mereka berinvestasi dalam tim riset lokal, fasilitas manufaktur, dan layanan purna jual.

Dari udara asin di pesisir Indonesia hingga panas lembap Thailand dan dapur sempit Malaysia, perusahaan mendesain ulang peralatan agar sesuai dengan lingkungan dan preferensi konsumen.

Pasar yang Semakin Panas

Cuaca panas yang menjadi keseharian mendorong konsumen mencari produk pendingin tanpa membengkakkan tagihan listrik.

Indonesia menghadapi musim kemarau panjang akibat El Nino, sementara Malaysia dan Vietnam juga dilanda gelombang panas.

Kombinasi panas berkepanjangan, kelembapan tinggi, dan kualitas udara fluktuatif meningkatkan permintaan produk pendingin hemat energi dan tahan lama buatan China.

Di Hanoi, peralatan pendingin portabel dari MINISO menjadi barang terlaris musim panas.

Kipas genggam, pendingin leher, dan tisu mint seharga beberapa dolar AS populer di kalangan pekerja kantoran dan keluarga.

Pelanggan Le Hoang mengatakan produk ringan itu menjadi kebutuhan untuk perjalanan luar ruangan, memberikan kesejukan terjangkau saat AC tidak tersedia.

AC merek China juga menarik lebih banyak rumah tangga di Asia Tenggara karena efektivitas biaya dan efisiensi energi.

Chong Kee Pun, manajer toko TCL pertama di Malaysia, mengatakan penjualan AC terus meningkat. Banyak pelanggan menemukan merek China melalui media sosial sebelum berkunjung ke toko.

Data Euromonitor International menunjukkan pangsa pasar rata-rata merek China di kategori peralatan rumah tangga utama Asia Tenggara naik menjadi sekitar 20 persen dalam lima tahun terakhir.