Science SARU merilis tiga episode pertama Ghost in the Shell, adaptasi baru dari manga klasik Masamune Shirow.

Serial ini menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dari film Mamoru Oshii maupun Stand Alone Complex.

>>> Jadwal Tayang Anime Original Inherit the Winds dan Berita Anime Lain (22 Juli 2026)

Dari detik pertama, penonton langsung merasakan perbedaan mencolok.

Adegan pembunuhan politisi oleh Major Motoko Kusanagi yang ikonik disajikan dengan warna cerah dan musik jazz upbeat, bukan nuansa gelap dan misterius seperti versi 1995.

Gaya Visual dan Musik yang Mencolok

Sutradara Mokochan memilih palet warna terang dan animasi yang sangat dinamis. Gaya ini mengingatkan pada free-form jazz: eksperimental, liar, dan tak terduga.

Soundtrack tidak hanya jazz, tetapi juga gitar distorsi, rock berat, dan orkestra simfoni. Semua berpadu dalam campuran eklektik yang memusingkan namun menyenangkan.

Kesetiaan pada Manga dengan Konsekuensi

Adaptasi ini sangat setia pada materi sumber, bahkan menyertakan catatan kaki infodump Shirow yang terkenal padat. Akibatnya, pengalaman menonton bisa terasa membingungkan bagi pemula.

Penjelasan teknis melesat cepat, dan segala sesuatu bergerak tanpa henti. Ini menjadikan serial ini sebagai salah satu tontonan paling liar dalam anime TV.

Tiga episode pertama mengadaptasi lima bab manga, termasuk prolog pendek dan dua sketsa pendek. Struktur ini terasa sedikit kikuk, lebih baik ditonton sekaligus daripada mingguan.

Serial hanya sepuluh episode, sehingga tujuh episode tersisa harus mengadaptasi enam bab penuh dan epilog. Semoga struktur ke depannya lebih koheren.

>>> Kreator Ted Lasso Targetkan Musim Kelima Setelah Penundaan Produksi

Tantangan lain adalah perangkat lunak subtitel Amazon yang terbatas. Versi subtitle tidak menerjemahkan teks di layar yang penting untuk memahami dialog teknis.