Mayoritas negara berkembang di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa akibat tingginya ketidakpastian global.

>>> APPBI: Tingkat Kunjungan Mal Stabil Meski Ekonomi Tertekan

Untuk akhir tahun 2026, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada level Rp 17.602 per dolar AS, meski jangka pendek masih menghadapi area resistance.

"Sekarang level resistance terdekat kita di Rp 18.300 per dolar AS. Kalau Rp 18.300 break, Rp 18.500 sudah dekat.

Kalau Rp 18.500 break, bisa ke Rp 18.700," jelas Myrdal.

Langkah Bank Indonesia dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing dipandang sangat krusial guna menjaga kepercayaan pasar.

Kebijakan agresif menyerap likuiditas lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) perlu diimbangi dengan tindakan nyata menjaga stabilitas kurs rupiah.

"BI harus melakukan intervensi.

Tujuannya untuk membangun confidence di market bahwa pasar keuangan Indonesia tidak mudah dirontokkan oleh investor asing yang orientasinya jangka pendek," kata Myrdal.

Aset keuangan domestik sebenarnya dinilai masih memiliki daya tarik tinggi bagi pemodal internasional.

Tingkat yield Surat Berharga Negara (SBN) yang kompetitif serta valuasi pasar saham yang murah menjadi daya pikat di tengah fundamental korporasi Indonesia yang kokoh.

"Yield kita sudah tinggi untuk surat utang negara. Itu bisa dipandang menarik oleh investor.

>>> Trump: Israel dan Iran Berupaya Segera Capai Gencatan Senjata

Pasar saham kita juga sebenarnya menarik karena valuasinya makin murah, sementara fundamental banyak korporasi masih bagus," pungkas Myrdal.