Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, memproyeksikan cadangan devisa Indonesia mampu bertahan di kisaran US$ 143 miliar hingga akhir tahun 2026.

Proyeksi ini disampaikan pada Senin (8/6/2026) di tengah tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah dan arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

>>> Methosa Rilis Lagu Satir Biru Pink, Kritik Realitas Sosial Lewat Hip-Hop

Menurut Myrdal, aliran modal asing, investasi langsung (FDI), serta surplus neraca perdagangan menjadi pilar utama penopang cadangan devisa, terutama pada paruh kedua tahun ini.

"Terkait dengan proyeksi cadangan devisa kita untuk akhir tahun sekitar US$ 143 miliar. Jadi masih on track dengan kondisi sekarang," ujar Myrdal.

Ia menambahkan, potensi masuknya arus modal asing ke pasar keuangan domestik pada semester II-2026 akan memperkokoh ketersediaan valuta asing.

Selain itu, kinerja ekspor yang surplus dan realisasi investasi asing langsung yang terjaga turut mendukung stabilitas eksternal.

"Kemungkinan pada Agustus nanti kita lihat ada flow masuk di pasar keuangan, lalu juga hasil FDI. Ini akan mendongkrak posisi cadangan devisa kita, terutama dari sisi suplai valas.

Trade surplus juga kelihatannya masih akan terus terjaga," kata Myrdal.

Namun, kondisi pasar keuangan dalam negeri saat ini masih menghadapi sentimen global yang kurang kondusif, sehingga memicu keluarnya dana asing.

Tekanan terhadap pergerakan kurs rupiah pun dinilai masih cukup kuat akibat fenomena arus keluar modal tersebut.

"Kita lihat flow di pasar saham sedang terjadi outflow, even kemungkinan di pasar surat utang negara juga terjadi outflow.

Jadi memang pasar keuangan kita terkena dampak perkembangan global saat ini," ujar Myrdal.