Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.914 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/7) pagi.

Mata uang Garuda menguat 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

>>> Daftar Negara Bebas Visa untuk WNI Terbaru 2026, Ada 42 Negara

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga berada di zona hijau terhadap dolar AS.

Yuan China menguat 0,09 persen, dolar Singapura naik 0,11 persen, yen Jepang menguat 0,06 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,65 persen, serta peso Filipina naik 0,02 persen.

Di sisi lain, hanya sebagian kecil mata uang Asia yang melemah. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,03 persen, sedangkan dolar Hong Kong bergerak stabil.

Sementara itu, mata uang utama negara maju juga mayoritas menguat terhadap dolar AS.

Euro Eropa naik 0,06 persen, poundsterling Inggris menguat 0,08 persen, dolar Australia terapresiasi 0,27 persen, dolar Kanada naik 0,09 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen.

>>> KRL Bogor-Jakarta Sempat Gangguan karena Vandalisme Persinyalan

Analis: Rupiah Berpotensi Melemah Terbatas

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring kenaikan harga minyak yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Namun pelemahan diperkirakan terbatas seiring mulai membaiknya sentimen domestik belakangan ini," ujar Lukman kepada CNNIndonesia. com.

Menurutnya, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan disertai sejumlah insentif baru turut menjadi penopang rupiah.

"Langkah BI memberikan insentif baru, antara lain mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral serta mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, dapat mendukung rupiah," lanjutnya.

>>> Kemenpora dan NYU Jalin Kerja Sama Bangun Ekosistem Olahraga Indonesia

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.