Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni menjadi momen refleksi kondisi perairan global yang kritis.

Lautan yang mencakup 70 persen permukaan bumi kini mengalami tekanan berat akibat aktivitas manusia.

>>> KABAR DUKA! Hilde Lynn Ditemukan Meninggal di Hotel São Paulo pada 30 Mei 2026, Polisi Selidiki Temuan Obat di Lokasi

Data global menunjukkan sekitar 90 persen populasi ikan besar di dunia telah habis terkuras.

Akumulasi sampah plastik diproyeksikan melampaui total berat seluruh ikan di lautan pada 2050 jika pola konsumsi tidak berubah.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di perairan Indonesia yang dipaksa menampung limpahan sampah dan limbah. Realitas ini kontras dengan keindahan bawah laut yang kerap ditampilkan dalam promosi pariwisata nasional.

Pencemaran dari Muara Angke hingga Laut Dalam

Publik dihebohkan oleh tumpukan sampah besar membentuk pulau di pesisir Muara Angke, Jakarta.

Kawasan wisata Gili Trawangan di Nusa Tenggara Barat juga tercemar bakteri Escherichia coli akibat buruknya pengelolaan limbah rumah tangga.

Kerusakan menjangkau laut dalam.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan mikroplastik hingga kedalaman 2.450 meter di Selat Makassar dan Selat Lombok.

Dasar laut Teluk Jakarta terkontaminasi logam berat seperti timbal dan kadmium, serta mengandung zat kimia paracetamol.

Ancaman Industri dan Pariwisata

Aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat memicu protes karena mengancam ekosistem pesisir.

Sektor transportasi batu bara merusak terumbu karang di Kutai Kartanegara dan mengancam pariwisata Karimunjawa akibat pelemparan jangkar ponton sembarangan.

Pada 2017, kapal pesiar Caledonian Sky kandas dan menabrak terumbu karang di Raja Ampat, merusak ribuan meter persegi titik selam terbaik dunia.