Banyak pemilik motor listrik beranggapan bahwa mengganti charger bawaan dengan kapasitas Ampere besar akan mempercepat pengisian daya. Namun, anggapan itu keliru.

Mohamad Rifki Robana, pemilik bengkel spesialis motor listrik STB EV, menjelaskan bahwa fitur pengisian cepat baru bisa aktif setelah mengubah Battery Management System (BMS) dan baterai.

>>> Cara Hitung Siklus Hidup Baterai Motor Listrik yang Benar

"Iya, dari BMS dan spesifikasi baterainya. Bukan dari controller," ujar Rifki kepada Kompas.

com.

Masyarakat awam sering mengira controller sebagai otak kelistrikan yang mengatur pengisian daya. Padahal, arus listrik yang masuk sepenuhnya dikendalikan oleh BMS.

BMS bertindak sebagai pengaman yang otomatis memutus arus jika charger mengirimkan daya melebihi batas maksimal. Hal ini untuk mencegah overheat atau kebakaran.

"Kalau spesifikasi charger-nya besar, pasti akan di-cut oleh BMS. Jadi, percuma kalau pakai charger yang 10 Ampere, tapi di BMS-nya cuma 2,5 Ampere.

Jadi ada batas maksimalnya," kata Rifki.

>>> Mekanik Ungkap Prosedur Perbaikan Ketidakseimbangan Sel Baterai Motor Listrik

Jika memaksa memakai charger 10 Ampere pada motor dengan BMS berkapasitas 2,5 Ampere, arus yang masuk tetap tertahan di angka 2,5 Ampere.

Proses pengecasan tidak bertambah cepat.

Pemilik yang ingin motornya mendukung pengisian cepat harus mengganti paket baterai dan BMS yang sesuai. Pekerjaan ini wajib ditangani oleh teknisi ahli kelistrikan.

"Untuk penggantian baterai, bisa berkisar hingga Rp 4,5 jutaan, sudah termasuk jasa. Sedangkan lama pengerjaan, bisa memakan waktu lima hari hingga sepuluh hari," tambah Rifki.

Biaya modifikasi bervariasi tergantung pada kapasitas Voltase, Ampere-hour, serta jenis sel baterai yang dipilih konsumen.

>>> Keterlambatan RKAB 2026 Bebani Industri Karoseri Truk

Konsultasi dengan bengkel spesialis sangat disarankan sebelum membeli charger mahal. Dengan begitu, peningkatan sistem manajemen daya dan baterai bisa berjalan optimal.