Keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) 2026 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan tekanan tambahan pada sektor karoseri truk di Indonesia.

Penundaan ini menyebabkan penurunan pemesanan dari perusahaan pertambangan, yang merupakan pelanggan utama jasa pembuatan bodi kendaraan besar.

>>> Harga City Car Juni 2026 Stabil, Toyota Agya GR Mulai Rp 237 Jutaan

Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka, mengungkapkan bahwa penahanan dokumen RKAB menjadi kendala utama bagi kelangsungan operasional industri pendukung otomotif.

"Di 2026 ini dengan kondisi kita seperti ini dimana RKAB banyak yang di hold, ini menjadi urat nadi kita sebenarnya.

Kita di karoseri bagaimana mendukung teman-teman di ATPM khususnya di DCVI kalau penjualan mereka berkurang maka karoseri akan terkena dampaknya juga," ujar Syarifuddin.

Penurunan volume order armada baru dari sektor tambang secara otomatis memotong rantai pasokan penjualan agen tunggal pemegang merek (ATPM).

>>> Bengkel Motor Listrik Ungkap Cara Deteksi Penurunan Performa Baterai

Untuk menyiasati penurunan pasar off-road, MTU memaksimalkan pengerjaan segmen on-road yang masih stabil berkat dukungan industri logistik nasional.

"Pokoknya intinya kalau kita di MTU apapun yang terbuat dari besi dan bisa dilas bisa dikerjakan di MTU.

Namun kita tetap mematuhi regulasi dari APTM apa saja yang boleh dan tidak boleh," kata Syarifuddin.

>>> Bengkel DyVolt EV Shop Bekasi Beberkan Panduan Servis Baterai Motor Listrik

Langkah penyesuaian produksi tersebut tetap mengacu pada batas teknis keamanan yang ditetapkan oleh pemegang merek kendaraan komersial.