Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan 93 proyek pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan hidrogen hijau dan biru, pembangunan industri amonia, konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), hingga infrastruktur pengisian bahan bakar hidrogen untuk sektor transportasi.

>>> BEI Buka Suspensi, Saham AGAR Langsung Terbang 24,75% ke Rp630

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan seluruh proyek tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

"Kami saat ini punya 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya sudah tertera ini tersebar di seluruh Indonesia.

Jadi proyek-proyek ini melahirkan investasi Rp32 triliun yang akan kita kawal," kata Eniya saat membuka Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta Convention Center, Selasa (21/7/2026).

Sebaran Proyek Hidrogen di Berbagai Wilayah

Di Aceh, proyek yang dikembangkan meliputi pembangunan amonia hijau dan amonia biru.

Sumatera Utara mengembangkan combined heat and power (CHP) di PLTU Pangkalan Susu, fasilitas steam methane reforming (SMR) di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung, serta biohidrogen dari POME.

Riau mengembangkan proyek co-firing hidrogen di PLTU Tenayan, sedangkan Sumatera Selatan menjadi lokasi produksi hidrogen di Kilang Plaju untuk mendukung industri petrokimia.

Lampung juga menjadi pusat pengembangan hidrogen hijau melalui proyek panas bumi di Ulubelu.

Pulau Jawa menjadi wilayah dengan proyek terbanyak, meliputi jaringan Hydrogen Refueling Station (HRS), green hydrogen, green ammonia, pemanfaatan hidrogen di pembangkit listrik, hingga studi pengembangan hidrogen untuk kawasan industri.

Di Kalimantan Barat, hidrogen diproduksi menggunakan listrik dari PLTA untuk mendukung produksi amonia.