Kalimantan Timur difokuskan pada studi potensi produksi hidrogen dan pengembangan kawasan industri berbasis hidrogen, sementara Kalimantan Tengah mengembangkan pemanfaatan hidrogen dari konsesi tambang batu bara.

>>> Ramalan Zodiak Cinta 21 Juli: Taurus Si Dia Lagi Sensitif, Libra Tetap Senyum

Untuk Sulawesi, pemerintah mengkaji potensi hidrogen alami di Sulawesi Tengah. Maluku menjadi lokasi pengembangan amonia biru yang terintegrasi dengan proyek LNG Abadi Masela.

Di Nusa Tenggara Barat dikembangkan proyek hidrogenisasi PLTS Medana dan implementasi fuel cell untuk microgrid.

Nusa Tenggara Timur menyiapkan proyek dedieselisasi Pulau Sumba berbasis PLTS yang dipadukan dengan hidrogen sebagai sistem penyimpanan energi.

Papua Barat mengembangkan pembangunan amonia biru di Teluk Bintuni, sementara Papua memanfaatkan hidrogen untuk mendukung PLTS yang terintegrasi dengan battery energy storage system (BESS) di sejumlah lokasi.

Menurut Eniya, proyek-proyek tersebut tidak hanya memperluas pemanfaatan energi bersih, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan industri hidrogen nasional.

"Misalnya nanti di Sumba kita harapkan 2028 bisa COD, lalu di Pulau Rengit juga sudah bekerja sama dengan PLN untuk menghasilkan program dedieselisasi.

Karena ini menurunkan harga diesel yang Rp20.000 per kWh atau sekitar 1 dolar menjadi 25 sen," ujarnya.

Pengembangan 93 proyek hidrogen itu diperkirakan menarik investasi sekitar US$1,8 miliar atau setara Rp32 triliun serta menciptakan lebih dari 9.000 lapangan kerja hijau (green jobs).

"Kami mohonkan agar upaya ini bisa terlaksana dan bisa kita dapatkan hasilnya sebelum 2029.

>>> Influencer Skincare Ditangkap Usai Curi Barang Rp 44 Juta di Supermarket

Jadi kita mohon bisa dipercepat sehingga pada 2027 nanti bisa COD, dan akhirnya kita bisa mendapatkan realita atau pelaksanaan implementasi pemakaian hidrogen sebagai sumber energi yang kita lahirkan dari bumi kita sendiri di Indonesia," kata Eniya.