Nilai tukar rupiah di pasar spot exchange mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin, 8 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Indonesia merosot 143 poin atau 0,79 persen ke level Rp 18.179 per dolar AS pada pukul 11.25 WIB.

>>> DPR dan Pemerintah Sinkronisasi Kebijakan Ekspor PT Danantara

Indeks dolar AS tercatat stabil di posisi 100.009 pada waktu yang sama.

Pada pembukaan perdagangan hari yang sama, rupiah sudah melemah 79,50 poin atau 0,44 persen di level Rp 18.115 per dolar AS.

Proyeksi Pelemahan Berlanjut

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan tren penurunan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

"Melihat kondisi saat ini, ada kemungkinan rupiah mencapai level Rp 19.000 per dolar AS di akhir bulan ini," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal meliputi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter AS.

>>> Komdigi Wajibkan Registrasi Biometrik Kartu SIM Mulai 1 Juli 2026

Ekspektasi pasar terhadap bank sentral AS, Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga tinggi menjadi motor utama penguatan dolar AS.

Hal ini juga berimbas pada kenaikan harga minyak dunia.

"Masalah geopolitik, kemudian kebijakan bank sentral Amerika Serikat membuat dolar AS menguat, kemudian harga minyak juga naik," paparnya.

Faktor eksternal diperparah oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang positif, memicu spekulasi The Fed berpeluang menaikkan suku bunga satu kali pada kuartal keempat 2026.

Di sisi internal, lonjakan harga komoditas energi global turut menekan posisi mata uang nasional.

>>> Stuffcool Luncurkan Charger GaN Numen 45 dan Numen 45 Pro 45W di India

"Kebutuhan dolar AS akan terus meningkat karena kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya mempengaruhi neraca berjalan," jelas Ibrahim.