Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk tidak mencairkan aset Iran ataupun mencabut sanksi ekonomi sebelum tercapainya kesepakatan damai yang konkret.

Kebijakan tegas ini disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump di tengah eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.

>>> OJK: Sektor Perdagangan Besar Dominasi Pembiayaan Multifinance

Trump menjelaskan bahwa pelonggaran sanksi baru akan dipertimbangkan setelah seluruh poin perjanjian disepakati bersama oleh kedua belah pihak.

"Itu dilakukan setelah (kesepakatan). Jika mereka berperilaku baik dan menjalankan tugas dengan benar, kita baru akan mulai berbicara," ujar Trump.

Peringatan Keras untuk Teheran

Ketegangan bersenjata terus meningkat sejak pasukan AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.

Meski jalur diplomasi telah diupayakan dalam beberapa minggu terakhir, Trump tetap mengeluarkan peringatan keras terhadap Teheran.

>>> Andoni Iraola Buka Peluang Darwin Nunez Kembali ke Liverpool

"Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan, atau saya akan menghancurkan mereka," tegasnya.

Di sisi lain, Trump membuka peluang untuk mengadakan pembicaraan langsung secara personal dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Namun, ia menolak memberikan informasi detail mengenai kondisi fisik maupun lokasi keberadaan Khamenei yang belum muncul ke publik setelah terluka akibat serangan militer.

"Saya tidak ingin mengatakan apakah saya tahu di mana dia atau tidak, tetapi ada kemungkinan besar saya mengetahuinya," ungkapnya.

>>> Raisa Kejutkan Penonton dengan Sung Si-kyung di Konser JCC

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan kesepakatan gencatan senjata sementara masih berjalan secara operasional meskipun militer AS terus melakukan gempuran intensif yang diklaim sebagai tindakan pertahanan diri.