Studi: Lobster dan Krustasea Merasakan Sakit Saat Dimasak
Kebiasaan merebus lobster atau kepiting hidup-hidup kini mulai dipertanyakan. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa hewan berkulit keras seperti lobster ternyata dapat merasakan sakit.
Selain lobster, hewan laut lain seperti kepiting, gurita, dan kelompok invertebrata lainnya juga peka terhadap rasa nyeri. Mereka bahkan akan meninggalkan tempat persinggahan jika mendeteksi ancaman.
>>> IHSG Berpotensi Uji Level Krusial 5.500 dan Rupiah Melemah
Fakta ini mendorong sejumlah negara menerapkan peraturan ketat. Inggris telah mengesahkan Undang-Undang Kesejahteraan Hewan sejak 2022 untuk melarang merebus lobster, kepiting, dan gurita hidup-hidup.
Selandia Baru mewajibkan hewan seperti kepiting, udang karang, dan lobster batu dibuat tidak sadar sebelum diolah. Sementara California melarang budidaya gurita karena dianggap penyiksaan.
Secara biologis, lobster akan mengibaskan ekornya sebagai refleks saat merasakan sakit. Para peneliti menjelaskan bahwa saraf nosiseptor mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak hewan.
Menariknya, respons nyeri lobster menurun saat diberikan obat pereda nyeri manusia seperti aspirin dan lidokain. Kemiripan reaksi ini diuji melalui penelitian ilmiah terstruktur.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada 13 April 2026 menguji 105 ekor lobster yang dibagi empat kelompok.
>>> Akun Instagram BGN Hapus Unggahan Apresiasi untuk Dadan Hindayana Setelah Penahanan
Tiap kelompok diberi sengatan listrik 9,09 volt selama 10 detik.
Pada kelompok pertama tanpa obat pereda, semua lobster menggerakkan ekor secara agresif. Setelah disuntik aspirin, hanya 3 dari 13 lobster yang bereaksi.
Untuk kelompok lain, lidokain dilarutkan ke dalam tangki air. Hasilnya, 7 dari 13 lobster menggerakkan ekor saat disengat.
Peneliti menyimpulkan bahwa aliran listrik tidak hanya menimbulkan kontraksi otot, tetapi juga rasa nyeri nyata.
"Fakta bahwa obat penghilang rasa sakit manusia juga bekerja pada lobster Norwegia menunjukkan kemiripan cara kerja kita," kata Lynne Sneddon, profesor zoofisiologi di Universitas Gothenburg.
>>> Bahaya Spons Cuci Piring yang Jarang Diganti, Sarang Bakteri Berbahaya
"Itulah mengapa penting memperhatikan bagaimana kita memperlakukan dan membunuh krustasea, sama seperti ayam dan sapi," imbuhnya.
Update Terbaru
Tunjangan Guru Kemenag Lulusan PPG 2025 Cair Mulai Pekan Depan
Kamis / 23-07-2026, 06:37 WIB
Sarwendah Cabut dari Rumah Ruben Onsu, Akui Sering Didatangi Debt Collector Malam Hari
Kamis / 23-07-2026, 06:37 WIB
HMD Luncurkan Nokia 123 Shield, Ponsel Fitur Tangguh dengan USB-C dan Baterai 19 Hari
Kamis / 23-07-2026, 06:37 WIB
Review Corsair Clipper Pro Mini 60: Keyboard 60% dengan Harga Terjangkau dan Fitur Lengkap
Kamis / 23-07-2026, 06:26 WIB
Fetterman Kecam Trump soal Klaim Kecurangan Pemilu 2020
Kamis / 23-07-2026, 06:26 WIB
Kevin Feige Ungkap Rencana MCU hingga 2042, X-Men Jadi Inti
Kamis / 23-07-2026, 06:22 WIB
Hasbro Rilis Action Figure The Legend of Zelda Pertama dari Tears of the Kingdom
Kamis / 23-07-2026, 06:22 WIB
Palworld Akan Selalu Bisa Dimainkan, Bukan Live Service
Kamis / 23-07-2026, 06:22 WIB
Trump Hadiri Pemulangan Jenazah Empat Prajurit AS di Tengah Konflik Iran
Kamis / 23-07-2026, 06:21 WIB
Tantangan Hukum terhadap Penyelesaian Capital One Berpotensi Menunda Biaya Bunga
Kamis / 23-07-2026, 06:21 WIB
DPR AS Setujui RUU Pertahanan Rp 1,15 Triliun Terkait UU Pemilih
Kamis / 23-07-2026, 06:21 WIB
Spanyol Juara Piala Dunia 2026, FIFA Umumkan Tim Terbaik Turnamen
Kamis / 23-07-2026, 06:21 WIB
Manga Liar Game: The Last Game Resmi Berakhir
Kamis / 23-07-2026, 06:15 WIB
Elang Botak Jackie Jalani Perawatan Intensif di Pusat Rehabilitasi Ojai
Kamis / 23-07-2026, 06:15 WIB







