DPR Amerika Serikat pada Rabu (22/7/2026) menyetujui paket otorisasi pertahanan senilai $1,15 triliun dengan suara 216-212.

RUU tersebut merupakan National Defense Authorization Act (NDAA) tahunan yang dikaitkan dengan SAVE America Act, undang-undang yang mewajibkan identifikasi pemilih lebih ketat.

>>> Spanyol Juara Piala Dunia 2026, FIFA Umumkan Tim Terbaik Turnamen

Langkah ini merupakan prioritas legislatif yang didorong Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu.

Mayoritas anggota Partai Demokrat menolak paket tersebut, menentang operasi militer di Iran.

Perwakilan Adam Smith dari Washington, anggota senior Komite Angkatan Bersenjata DPR dari Partai Demokrat, menyuarakan penolakan keras.

"Mendukung apa pun di bidang pertahanan berarti mendukung perang tanpa akhir ini," kata Smith dalam debat di lantai DPR.

Paket ini mengalokasikan lebih dari $1 triliun langsung ke Departemen Pertahanan, $40 miliar untuk pengawasan persenjataan nuklir Departemen Energi, dan lebih dari $10 miliar untuk program militer terkait.

RUU ini juga menjamin kenaikan gaji personel militer.

Presiden Trump sebelumnya mengusulkan perluasan anggaran militer menjadi $1,5 triliun, meningkat sekitar $600 miliar dari tahun fiskal sebelumnya.

>>> Manga Liar Game: The Last Game Resmi Berakhir

RUU gabungan ini kini menghadapi jalan sulit di Senat, di mana Partai Demokrat sebelumnya memblokir NDAA versi mandiri pada 14 Juli 2026 dengan suara 50-46.

Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mengkritik agenda militer pemerintahan di Timur Tengah.

"NDAA tidak boleh menjadi izin untuk kecerobohan yang kita lihat di Iran," kata Schumer.

Schumer juga mengecam kampanye militer yang sedang berlangsung dalam pidatonya sebelum pemungutan suara.

"Donald Trump tidak boleh menyeret rakyat Amerika lebih dalam ke perang yang tidak bisa ia jelaskan dan tidak tahu cara mengakhirinya, lalu menuntut Kongres berpaling," ujarnya.

Pertempuran legislatif ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya permusuhan di Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran.

Setelah gencatan senjata sementara pada Juni, serangan AS kembali terjadi di Selat Hormuz setelah Trump menyatakan perjanjian tersebut batal.

>>> Elang Botak Jackie Jalani Perawatan Intensif di Pusat Rehabilitasi Ojai

Operasi militer selama lima bulan telah menewaskan 17 personel militer AS.