Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada awal pekan diperkirakan kembali mengalami tekanan berat.

Laju indeks diproyeksikan menguji level psikologis krusial di angka 5.500 akibat minimnya katalis positif dan maraknya sentimen negatif.

>>> Akun Instagram BGN Hapus Unggahan Apresiasi untuk Dadan Hindayana Setelah Penahanan

Para pelaku pasar saat ini mencermati sejumlah rilis data makroekonomi penting.

Agenda terdekat meliputi publikasi data cadangan devisa Mei 2026 pada 8 Juni, indeks keyakinan konsumen Mei 2026 pada 10 Juni, serta angka penjualan ritel April 2026 pada 11 Juni.

“Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya yang dikutip pada Minggu (7/6/2026).

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG tercatat anjlok signifikan sebesar 4,2% menuju posisi 5.594,7.

Tekanan jual di pasar modal domestik dipicu oleh ketidakjelasan kebijakan pemerintah serta rumor pasar yang direspons negatif.

“Di antaranya revisi UU P2SK yang memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan,” sebut Phintraco Sekuritas.

Kondisi kurang menguntungkan juga menimpa nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sebesar 0,46% ke posisi Rp 18.049 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Garuda yang terus berlanjut menimbulkan spekulasi bahwa Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat sebelum jadwal resmi pada 17-18 Juni 2026.

Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan mengumumkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mengalami defisit senilai Rp 180,4 triliun atau setara 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini membengkak dibanding periode sama tahun 2025 yang mencatatkan defisit Rp 20,9 triliun atau 0,09% dari PDB.