Bahaya obat tramadol kembali menjadi sorotan setelah sebuah tinjauan besar terhadap berbagai penelitian menemukan bahwa obat ini hanya memberikan sedikit manfaat dalam meredakan nyeri kronis.

Sebaliknya, penggunaannya justru dikaitkan dengan peningkatan risiko efek samping serius, termasuk gangguan jantung.

>>> Jadwal Indonesia vs Filipina di SEA V Cup 2026 Leg 2: Kapan, di Mana?

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal BMJ Evidence Based Medicine.

Peneliti menyimpulkan bahwa manfaat tramadol kemungkinan tidak sebanding dengan risikonya sehingga penggunaannya sebaiknya dibatasi semaksimal mungkin.

Tramadol merupakan obat golongan opioid yang umum diresepkan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat, baik yang bersifat akut maupun kronis.

Obat ini bekerja melalui dua mekanisme sehingga selama ini banyak direkomendasikan dalam sejumlah panduan penanganan nyeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan tramadol meningkat tajam dan menjadikannya salah satu opioid yang paling sering diresepkan, terutama di Amerika Serikat.

Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa tramadol lebih aman, memiliki efek samping lebih ringan, serta risiko ketergantungan yang lebih rendah dibandingkan opioid kerja singkat lainnya.

Namun, para peneliti menilai bukti ilmiah yang selama ini tersedia belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas sekaligus keamanan tramadol pada berbagai jenis nyeri kronis.

Untuk itu, mereka menelusuri berbagai uji klinis acak yang dipublikasikan hingga Februari 2025.

Seluruh penelitian tersebut membandingkan penggunaan tramadol dengan plasebo pada pasien yang mengalami nyeri kronis, termasuk nyeri akibat kanker.

Analisis akhir mencakup 19 uji klinis dengan total 6.506 peserta.

Sebanyak lima penelitian melibatkan pasien nyeri neuropatik, sembilan penelitian pada osteoartritis, empat penelitian pada nyeri punggung bawah kronis, dan satu penelitian pada fibromialgia.