Kendati demikian, realisasi defisit pertengahan tahun ini dilaporkan masih berada di bawah target total defisit sepanjang tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.

Prospek Rebound IHSG

Di balik tekanan tersebut, terdapat prospek perbaikan performa indeks dalam jangka pendek.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG akan mulai berbalik arah atau pulih pada rentang waktu pertengahan hingga akhir Juli 2026.

Terdapat tiga elemen utama yang dinilai mampu menopang rebound indeks. Pertama, telah berakhirnya gelombang tekanan jual yang berkaitan dengan rebalancing indeks MSCI.

“Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar Indonesia, telah menyerap sebagian besar tekanan tersebut,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dalam risetnya.

Faktor pendorong kedua adalah potensi meredanya tekanan terhadap mata uang nasional.

>>> Bahaya Spons Cuci Piring yang Jarang Diganti, Sarang Bakteri Berbahaya

Kuartal II secara historis menjadi momentum terberat bagi rupiah karena adanya repatriasi dividen ke investor luar negeri serta tingginya kebutuhan valuta asing untuk musim haji.

“Faktor musiman tersebut diperkirakan mereda memasuki kuartal III,” ungkap Erindra.

Faktor ketiga berkaitan dengan pergerakan harga komoditas minyak bumi dan ketegangan geopolitik yang diperkirakan telah mencapai puncaknya.

Walaupun harga minyak dunia diproyeksikan tetap tinggi, pelaku pasar dinilai mulai mengasumsikan bahwa risiko konflik global sudah tecermin pada harga pasar saat ini.

“Namun, faktor-faktor tersebut belum menyelesaikan persoalan risiko peringkat kredit maupun ketidakpastian kebijakan yang lebih luas.

Namun, kami menilai kondisi tersebut cukup untuk memicu pemulihan pasar saham dalam jangka pendek,” jelas dia.

Rekomendasi Portofolio dan Target Harga Saham

Merespons dinamika pasar, BRI Danareksa Sekuritas melakukan revisi turun terhadap target IHSG akhir tahun 2026 menjadi 7.200, dari estimasi awal yang berada pada level 9.440.