Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat meloloskan Rancangan Undang-Undang Kebijakan Pertahanan Tahunan yang mengesahkan penambahan anggaran menjadi total US$1,15 triliun (Rp20.581 triliun) untuk Kementerian Pertahanan.

RUU National Defense Authorization Act (NDAA) 2027 itu disahkan melalui pemungutan suara tipis 216 berbanding 212 pada Rabu (22/7) malam waktu AS.

>>> Urgensi Pembatasan Anak di Ruang Digital Lewat PP Tunas

Meski sudah lolos di tingkat DPR, RUU tersebut masih harus mendapat persetujuan Senat sebelum resmi menjadi undang-undang.

Kenaikan Gaji dan Sistem Pertahanan Baru

NDAA 2027 mengalokasikan dana sekitar US$250 miliar lebih besar dibandingkan NDAA 2026.

Penambahan anggaran ini termasuk untuk kenaikan gaji 5-7 persen bagi personel militer AS serta pengembangan sistem pertahanan rudal Golden Dome.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan undang-undang ini memberikan kenaikan gaji yang sudah lama tertunda bagi prajurit dan memperkuat kemampuan penangkal nuklir serta pertahanan rudal.

Presiden Donald Trump terus mendorong pengembangan sistem pertahanan rudal Golden Dome untuk melindungi daratan utama AS, yang terinspirasi dari Iron Dome milik Israel.

>>> Asisten Pelatih Argentina Terancam Sanksi FIFA, Diduga Pukul Dani Olmo

Anggota Partai Republik di Komite Angkatan Bersenjata DPR menyatakan RUU tersebut akan membantu membangun kembali persediaan amunisi yang menipis akibat perang melawan Iran.

Di sisi lain, anggota DPR dari Partai Demokrat Jerry Nadler menolak memberikan dana sebesar US$1,15 triliun kepada pemerintahan Trump.

Ia menyebut RUU itu mahal, buruk, mendanai perang ilegal, dan melemahkan demokrasi.

RUU tersebut juga memuat SAVE America Act, kebijakan prioritas Trump yang memberlakukan pembatasan baru terhadap sistem pemungutan suara secara nasional.

Ketentuan itu dimasukkan melalui manuver prosedural dan memicu kemarahan Partai Demokrat, yang diperkirakan akan menyulitkan pembahasan di Senat.

>>> Samsung Perpanjang Dukungan Software Galaxy Watch Terbaru hingga 5 Tahun

Kontroversi juga muncul terkait bagian lain dari NDAA yang menyerukan peningkatan kerja sama antara militer AS dan Angkatan Bersenjata Israel.