Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Tekanan datang dari arus keluar dana asing yang masih besar.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 61,3 triliun secara akumulasi. Dalam sepekan terakhir, nilai jual bersih mencapai Rp 13,78 triliun.

>>> Saham Merdeka Copper Gold Jadi Unggulan Trading Pekan Ini, Target Rp 2.660

Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai IHSG masih tertekan.

"Dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan karena sentimen global dan arus keluar dana asing yang masih besar," ujarnya kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).

Meski demikian, Budi melihat peluang technical rebound mulai terbuka.

"Setelah koreksi lebih dari 36% dari ATH, peluang rebound juga semakin terbuka, terutama jika tekanan jual mulai mereda," tambahnya.

Suku Bunga Tinggi Tekan Pasar

Budi menjelaskan, tingginya suku bunga saat ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar saham.

Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman seperti deposito dan obligasi.

"Suku bunga tinggi membuat alternatif investasi di deposito dan obligasi lebih menarik, sementara biaya pendanaan perusahaan juga meningkat.

Ini mendorong valuasi saham mengalami penyesuaian," jelasnya.

Dari sisi aliran dana, ia memperkirakan arus dana asing masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. "Investor global saat ini lebih selektif terhadap emerging markets.

>>> Cara Mudah Cek Bansos BPNT Melalui Kantor Lurah

Arus masuk yang lebih konsisten kemungkinan baru terjadi jika sentimen global membaik, rupiah stabil, dan kepercayaan terhadap pasar domestik meningkat," katanya.

Dalam kondisi pasar yang tertekan, Budi menyarankan investor untuk lebih berhati-hati.