Investor disarankan menghindari penggunaan utang atau margin, menjaga likuiditas, serta melakukan akumulasi secara bertahap pada saham dengan fundamental kuat.

"Fokus sebaiknya pada kualitas emiten, bukan sekadar harga yang sudah turun dalam," tegasnya.

Ia menilai sektor defensif masih relatif menarik di tengah ketidakpastian, seperti telekomunikasi, kesehatan, dan consumer staples.

Selain itu, saham dengan neraca kuat, arus kas stabil, serta dividend yield yang menarik dinilai lebih tahan terhadap tekanan pasar.

Ke depan, Budi menekankan sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor.

Faktor-faktor tersebut antara lain arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan yield US Treasury, arus dana asing, nilai tukar rupiah, serta perkembangan kebijakan fiskal domestik.

Menurutnya, faktor-faktor tersebut akan lebih menentukan arah IHSG dalam jangka pendek dibandingkan kinerja individual emiten.

>>> Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat di Bali untuk Tingkatkan Kesejahteraan

Investor pun diimbau untuk tetap mencermati dinamika global dan domestik guna mengantisipasi volatilitas pasar yang masih tinggi.