Industri Keramik Nasional Terhambat Lonjakan Harga Gas Bumi
Keterbatasan alokasi gas murah memaksa produsen membeli Liquefied Natural Gas (LNG) regasifikasi alternatif seharga US$21 per MMBTU.
Angka itu jauh melampaui tarif insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$7 per MMBTU.
>>> Pemerintah Wajibkan Campuran Etanol 5 Persen pada BBM Mulai Semester II 2026
"Selama 4 bulan 5 bulan di tahun ini, supply gas dari PGN untuk HGBT itu hanya di range 40% sampai 45%.
Selebihnya kami harus membayar dengan harga regasifikasi LNG yang amat sangat mahal. Harganya US$21 per MMBTU," ungkap Edy Suyanto.
Lonjakan biaya energi tersebut menekan daya saing lokal dari ancaman banjir produk impor asal China dan India.
Asaki mengusulkan penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi agar penjualan gas memprioritaskan industri dalam negeri.
"Karena makin banyak kami produksi, utilisasi semakin tinggi, harga gas akan semakin tinggi juga otomatis.
Nah daya saingnya kami perlu apa, kita mesti lihat China, India hari ini mereka over capacity, over supply, mereka harus buang ke mana?
Pasti kita akan dijadikan target pengalihan ekspornya," tutur Edy Suyanto.
Akibat keterbatasan alokasi, rata-rata biaya gas industri kini menembus US$15 per MMBTU sejak 1 Juni dan menyumbang 45 persen dari total biaya operasional.
"Kami sudah berhitung kalau dengan harga gas US$15 mulai 1 Juni, production cost dari sisi biaya energi ini akan naik di atas 45%.
Padahal di awal pelaksanaan HGBT tahun 2020 dan 2021 awal ya masih US$6, ini kami mampu mencetak efisiensi baru nih sehingga harga energi terhadap total biaya produksi itu di bawah 30% waktu itu sekitar 27-28%," tambah Edy Suyanto.
Pakar ekonomi menilai tingginya harga gas akan bertahan lama karena dinamika hulu dan kendala geografis.
Sumber gas baru mayoritas berada di wilayah timur sementara pabrik keramik dominan di wilayah barat Indonesia.
"Menurut saya, risiko yang lebih perlu diwaspadai adalah deindustrialisasi secara bertahap.
>>> Prabowo Soroti Porsi Ayam MBG, Ini Bedanya Potongan 8, 12 dan 14 Bagian
Ketidakpastian pasokan dan tingginya biaya energi dapat menahan ekspansi investasi serta mengurangi daya saing industri nasional," urai Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet.
Update Terbaru
Agent Kim Reactivated Kukuhkan Puncak Netflix Non-Inggris Tiga Pekan
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Ferrari Luce EV Pertama Dilelang, Harganya Bisa Tembus Rp17 Miliar
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Mengintip Aturan Polisi-TNI Ikut Awasi Wajib Pajak
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Warga Lampung Swadaya Cor Jalan, Tolak Bayar Pajak karena Kecewa
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Trump Ancam Bombardir Pickaxe Mountain Iran, Apa Itu?
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Pembagian 6 Tuan Rumah Piala Dunia 2030: Tiga Negara Utama dan Tiga Seremonial
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Fosil Bayi T. Rex Ungkap Kemampuan Berburu Sejak Menetas
Rabu / 22-07-2026, 07:28 WIB
Tiga Operator Menang Seleksi Frekuensi, Target Internet 100 Mbps pada 2029
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
Sidang Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah Lanjut Hari Ini
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
5 Kota di Jepang yang Cocok untuk Perjalanan Pertama
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
Bolehkah Facial saat Ada Jerawat? Ketahui Kondisi yang Perlu Dihindari
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
4 Shio yang Menarik Keberuntungan dan Kemakmuran Hari Ini 22 Juli 2026
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
Jadwal KRL Solo-Jogja 22 Juli 2026, Tarif Rp8.000 dan Jam Keberangkatan
Rabu / 22-07-2026, 07:26 WIB
Cek Bansos Kemensos 2026: Cara Mudah Lihat Status Penerima Bantuan
Rabu / 22-07-2026, 07:25 WIB







