Perekonomian Indonesia mencatat dua perkembangan penting pada Kamis (4/6/2026): penerimaan pajak tumbuh signifikan dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan penerimaan pajak pada Mei 2026 tumbuh 22,1 persen.

>>> Penguatan Museum dan Kebudayaan Strategis Atasi Krisis Kepribadian Bangsa

Data ini telah disampaikan ke Standard & Poor's (S&P) sebagai bukti ketangguhan fiskal Indonesia di tengah gejolak global.

Pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap PDB.

Sementara itu, Komisi XI DPR RI memastikan perluasan mandat Bank Indonesia untuk mendukung sektor riil tidak akan mengganggu independensi bank sentral.

DPR kini memiliki kewenangan lebih besar dalam mengevaluasi kinerja dan menyetujui anggaran tahunan BI melalui UU Perubahan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK.

Isu perombakan kabinet ditepis setelah Menteri Keuangan membantah spekulasi pengunduran dirinya.

>>> Andoni Iraola Datangi Markas Liverpool, Siap Gantikan Arne Slot

Di sisi lain, tiga pimpinan baru Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan konsolidasi internal dengan memprioritaskan efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pagu anggaran MBG dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.

Efisiensi dilakukan melalui refocusing penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, pembenahan dapur operasional, dan perluasan fokus ke daerah 3T.

Di pasar keuangan, rupiah ditutup melemah 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS. Pelemahan dipicu oleh sikap hati-hati pasar merespons ketegangan geopolitik AS-Iran di Timur Tengah.

>>> Badan Gizi Nasional Pangkas Anggaran Program Makan Bergizi Gratis

Faktor internal seperti kekhawatiran defisit fiskal dan sentimen outlook negatif untuk peringkat Danantara Investment Management (DIM) turut mempengaruhi pelemahan rupiah.