Pada hari biasa, pendapatan warga sekitar hanya berkisar antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu, bahkan sering kali nihil.

"Hari biasa sering tidak dapat apa-apa. Kalau Sabtu atau hari libur kadang agak ramai, tapi tetap tidak menentu," jelasnya.

Mustofa mengonfirmasi bahwa kedatangan rombongan pengunjung dari Surabaya tidak serta-merta meningkatkan keterisian jasa lokal.

"Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu," ujarnya.

Harapan Warga pada Pemerintah

Melihat kondisi ini, Sastro, seorang warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, menaruh harapan pada pemerintah daerah setempat.

"Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan," kata Sastro.

Sastro berharap ada langkah promosi yang lebih gencar agar sektor pariwisata di Sidoarjo kembali bergairah.

>>> Mirra Andreeva ke Final French Open 2026 Usai Kalahkan Marta Kostyuk

"Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali," tandasnya.