Kawasan Kecamatan Porong, Sidoarjo, yang dulu menjadi pusat keramaian kini mengalami kelumpuhan ekonomi akibat bencana lumpur Lapindo yang terjadi sejak 2006.

Dampak paling terlihat di sepanjang Jalan Raya Porong lama. Jalan yang dulu dipadati pertokoan, pedagang kaki lima, dan rumah makan kini sepi.

>>> BEI Pantau Enam Saham Akibat Indikasi Transaksi Tidak Wajar

Akses jalan utama rusak setelah lumpur merendam belasan desa di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin. Ribuan warga terpaksa pindah, dan pusat keramaian pun hilang.

Banyak bangunan komersial terbengkalai dan dikosongkan pemiliknya. Rio, pemilik Toko Cendrawasih yang masih bertahan, menceritakan perubahan drastis.

"Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli.

Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli," kata Rio.

Jumlah pengunjung merosot tajam sejak semburan lumpur pertama. Mayoritas pedagang gulung tikar akibat kerugian yang terus membengkak.

Rio menambahkan, beberapa toko material bangunan dan pakaian masih beroperasi ke arah selatan, namun intensitas transaksi sudah jauh menurun.

Penurunan pendapatan juga dirasakan Iswan Christanto, pengusaha bahan bangunan. Kehilangan pusat keramaian berdampak langsung pada omzet penjualan.

"Pembeli sekarang jauh berkurang. Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian," kata Iswan.

Menurut Iswan, bencana ini tidak hanya mematikan sektor perdagangan, tetapi juga merusak struktur ekonomi masyarakat.

Ribuan tempat tinggal hancur, lahan pertanian rusak, dan nilai jual tanah serta properti turun drastis.

>>> Semburan Lumpur Lapindo Lumpuhkan Ekonomi dan Ubah Porong Sidoarjo Jadi Kota Mati

Dampak sepinya kawasan menjalar ke sektor pariwisata. Ula Muanisa, pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo, mengatakan kunjungan wisatawan sangat berbeda dibanding masa awal pascabencana.