BEI Pantau Enam Saham Akibat Indikasi Transaksi Tidak Wajar
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawasi secara ketat pergerakan enam saham emiten pada Senin (8/6/2026).
Langkah ini diambil akibat adanya indikasi penurunan harga dan aktivitas transaksi yang bergerak di luar kebiasaan.
>>> Semburan Lumpur Lapindo Lumpuhkan Ekonomi dan Ubah Porong Sidoarjo Jadi Kota Mati
Keenam saham yang masuk dalam radar pengawasan intensif tersebut meliputi PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), dan PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX).
Selain itu, BEI juga memantau saham PT PAM Mineral Tbk (NICL), PT Multitrend Indo Tbk (BABY), serta PT Logisticsplus International Tbk (LOPI).
Penurunan Signifikan dalam Sebulan
Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, seluruh saham tersebut mengalami kemerosotan signifikan selama satu bulan terakhir.
Saham HUMI anjlok sebesar 47%, disusul oleh saham NICL yang merosot hingga 47,3%, dan saham BABY yang menyusut 46,1%.
Pelemahan juga terjadi pada saham IRSX sebesar 44,5%, saham LOPI sebesar 42,6%, serta saham ROCK yang turun sebanyak 41,9%.
>>> Nvidia dan SK Hynix Sepakat Rancang Chip Memori AI Generasi Terbaru
Pihak otoritas bursa memberikan penjelasan resmi mengenai status pengawasan khusus yang disematkan kepada keenam emiten tersebut.
"Pengumuman Unusual Market Activity (UMA) tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal," tulis manajemen BEI.
Otoritas pasar modal saat ini terus melakukan penelusuran lebih mendalam terhadap pergerakan perdagangan saham-saham tersebut.
"Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham-saham tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini," tulisnya.
Melalui pengumuman resmi tersebut, manajemen BEI juga mengimbau para investor untuk mengambil tindakan preventif sebelum melakukan transaksi lebih lanjut.
>>> Harga Tanah Colomadu Karanganyar Melejit Tembus Rp 3,83 Juta per Meter
Investor diminta melihat respons keterbukaan informasi dari emiten, mengkaji ulang rencana aksi korporasi yang belum disetujui RUPS, serta mempertimbangkan segala risiko di masa depan.
Update Terbaru
Review MacBook Neo: Laptop Termurah Apple dengan Baterai Awet
Senin / 08-06-2026, 10:00 WIB
Pusat Scam di Kamboja Tetap Beroperasi Meski Klaim Pemberantasan
Senin / 08-06-2026, 10:00 WIB
Adu Mekanik! Preview Nano Machine Chapter 316 Bahasa Indonesia, Update Terbaru!
Senin / 08-06-2026, 10:00 WIB
Gugatan 3,8 Juta Bitcoin di New York Terancam Gagal
Senin / 08-06-2026, 09:59 WIB
Trump Tegaskan Konflik Israel-Iran Tak Ganggu Negosiasi Damai
Senin / 08-06-2026, 09:59 WIB
Merdeka Gold Temukan Tambahan 445 Ribu Ons Emas di Gorontalo
Senin / 08-06-2026, 09:59 WIB
OpenAI Luncurkan Lockdown Mode untuk Lindungi ChatGPT dari Serangan Prompt Injection
Senin / 08-06-2026, 09:57 WIB
Dosen Ubah Cara Mengajar karena Mahasiswa Gen Z Sulit Membaca
Senin / 08-06-2026, 09:56 WIB
Suzuki Luncurkan Jimny Terbaru dengan Fitur ADAS di Malaysia
Senin / 08-06-2026, 09:56 WIB
Hakim AS Tunda Putusan Gugatan 3,8 Juta Bitcoin Terlantar
Senin / 08-06-2026, 09:56 WIB
IHSG Anjlok ke Level 5.520,8, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Pelemahan Rupiah
Senin / 08-06-2026, 09:56 WIB
Hindari Menyimpan 4 Barang Ini di Kolong Tempat Tidur agar Tidak Rusak
Senin / 08-06-2026, 09:56 WIB
Ditjen Pajak Perkuat Coretax untuk Genjot Penerimaan Negara
Senin / 08-06-2026, 09:54 WIB
OPEC+ Sepakat Naikkan Target Produksi Minyak Mulai Juli 2026
Senin / 08-06-2026, 09:54 WIB






