"Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari.

Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali," ujar Ula.

Kunjungan yang tidak menentu membuat Ula terkadang hanya memandu tamu satu kali dalam sepekan. Banyak wisatawan masuk ke area semburan tanpa menggunakan jasa pemandu.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Ula kini mencari pendapatan alternatif di sektor informal, seperti menjadi tukang ojek.

Keluhan serupa disampaikan Mustofa, pemandu wisata lain. Menurutnya, kemerosotan penghasilan mulai terasa sejak pandemi COVID-19 dan belum pulih.

"Memang benar penghasilan teman-teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai," kata Mustofa.

Pada hari kerja biasa, pendapatan warga hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu, bahkan sering nihil.

Akhir pekan kadang agak ramai, tetapi tetap tidak menentu.

>>> Nvidia dan SK Hynix Sepakat Rancang Chip Memori AI Generasi Terbaru

Meski ada rombongan pengunjung dari Surabaya, hal itu tidak menjamin peningkatan pendapatan penyedia jasa lokal. Banyak pengunjung tidak menggunakan jasa ojek atau pemandu.