GERD atau gastroesophageal reflux disease sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Padahal, kondisi naiknya asam lambung ke kerongkongan ini juga bisa dialami oleh anak-anak.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroentero-Hepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Eva Jeumpa Soelaeman, menjelaskan bahwa GERD pada anak umumnya mulai ditemukan setelah usia satu tahun.

>>> 4 Bulan Kekeringan, Warga Tangerang Berebut Air Bersih

Berbeda dengan bayi yang sering gumoh karena saluran cerna belum matang, GERD pada anak yang lebih besar biasanya dipicu oleh kebiasaan sehari-hari.

"GERD pada anak di atas satu tahun sering terjadi karena kebiasaan setelah makan langsung tidur, banyak melompat atau berlari, makan terlalu kenyang, hingga memakai celana yang terlalu ketat sehingga menekan perut," kata Eva dalam keterangannya, Rabu (22/7).

Bedakan GER dan GERD

Banyak orang tua menganggap semua muntah atau gumoh pada anak sebagai GERD. Padahal, keduanya berbeda.

Pada bayi, naiknya isi lambung yang menyebabkan gumoh disebut gastroesophageal reflux (GER). Kondisi ini normal karena otot sfingter belum berkembang sempurna dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia.

Sementara itu, GERD adalah kondisi yang lebih serius. Refluks terjadi berulang kali hingga menimbulkan keluhan, mengganggu aktivitas, bahkan memengaruhi pertumbuhan anak sehingga membutuhkan penanganan medis.

"Muntah dan nyeri perut menjadi keluhan yang paling sering dialami anak dengan GERD. Namun, gejalanya tidak selalu khas sehingga kerap terlambat dikenali," ujar Eva.

Dalam beberapa kasus, anak justru datang dengan keluhan batuk berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh.

"Saya pernah mendapat pasien yang dirujuk dari dokter paru karena batuk selama satu tahun tidak sembuh. Setelah diperiksa, ternyata penyebabnya adalah GERD," ungkapnya.