Penurunan omzet juga dirasakan oleh Iswan Christanto, seorang pemilik toko bahan bangunan di kawasan Porong lama.

"Pembeli sekarang jauh berkurang. Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian," kata Iswan.

Iswan menilai dampak lumpur Lapindo merusak seluruh lini ekonomi masyarakat, termasuk hilangnya ribuan rumah, kerusakan lahan pertanian, hingga anjloknya nilai properti dan tanah di area terdampak.

"Dulu Porong jadi pusat ekonomi masyarakat. Sekarang banyak usaha tutup gara-gara dampak lumpur," tambahnya.

Sektor Pariwisata Juga Terpuruk

Kondisi sepi ini juga berimbas langsung pada sektor pariwisata.

>>> BKN Umumkan Hasil Seleksi Administrasi Uji Kompetensi Manajemen ASN

Ula Muanisa (42), seorang pemandu wisata setempat, menyebut keadaan wisata Lumpur Lapindo saat ini sangat kontras dengan masa awal semburan.

"Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari.

Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali," kata Ula.

Kunjungan wisatawan yang tidak menentu membuat Ula kadang hanya bisa mengantar tamu satu kali dalam sepekan.

"Bahkan sekarang banyak pengunjung turun sendiri secara gratis, jadi kami tidak dapat penghasilan," ujarnya.

Demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, Ula kini harus mencari pekerjaan sampingan di luar kawasan wisata.

"Kadang harus cari tambahan jadi tukang ojek supaya kebutuhan rumah tangga tetap jalan," tambahnya.

Pemandu wisata lain bernama Mustofa membenarkan adanya penurunan penghasilan tersebut. Menurutnya, situasi semakin memburuk sejak pandemi COVID-19 dan belum pulih hingga sekarang.

"Memang benar penghasilan teman-teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai," kata Mustofa.