Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada April 2026. Namun, angkanya menyusut drastis menjadi hanya US$89,1 juta.

Capaian tersebut jauh di bawah surplus Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar. Dibandingkan April 2025, surplus kali ini juga lebih rendah dari US$160 juta.

>>> Resmi! BCA Ubah Batas Beli Valas Tunai per 2 Juni 2026, Cek Aturan Terbaru

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menyatakan tren positif ini telah bertahan lama. Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Kinerja Ekspor dan Impor

Surplus April 2026 dipicu nilai ekspor US$25,30 miliar, sedikit di atas impor US$25,21 miliar.

Ekspor tumbuh 21,98% secara tahunan (yoy) dari US$20,74 miliar pada April 2025.

Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan nilai US$20,59 miliar, naik 29,07% yoy. Komoditas pendorong antara lain minyak kelapa sawit, produk nikel, dan komponen elektronik.

>>> iPhone 17 Pimpin Penjualan Smartphone Global pada Kuartal I 2026

Sebaliknya, sektor pertambangan turun tipis 1,17% menjadi US$3,11 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga turun 5,53% menjadi US$450 juta.

Impor April 2026 mencapai US$25,21 miliar, naik 22,49% yoy. Lonjakan tertinggi terjadi pada impor migas yang meroket 82,52% secara tahunan.

Impor nonmigas naik 14,11% menjadi US$20,62 miliar.

Berdasarkan kategori, impor bahan baku/penolong mencapai US$18,65 miliar (naik 24,56%), barang modal US$4,13 miliar (naik 5,64%), dan barang konsumsi US$2,43 miliar (naik 42,90%).

>>> Ma Dong Seok Umumkan Kepergian Sang Ayah

Meski surplus menipis, keberlanjutan tren positif selama 70 bulan menjadi sinyal resiliensi ekonomi. Pemerintah dan pelaku usaha kini menghadapi tantangan menjaga keseimbangan ekspor dan impor.