Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pelemahan nilai tukar saat ini meliputi:

  • Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakibatkan saling serang secara militer.
  • Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
  • Aliran modal asing yang keluar (outflow) dari pasar saham serta pasar obligasi dalam negeri.
  • Meningkatnya permintaan dolar AS di pasar domestik untuk keperluan pembayaran utang luar negeri.
  • Kebutuhan korporasi akan mata uang asing untuk proses repatriasi dividen tahunan.

Kombinasi antara faktor eksternal dan kebutuhan internal di dalam negeri ini memperberat langkah rupiah untuk menguat.

Ariston menegaskan bahwa eskalasi baru di Timur Tengah akan menjadi penentu apakah rupiah akan terperosok lebih dalam.

Harapan Stabilitas dan Data Perdagangan

Harapan pelaku pasar saat ini tertumpu pada proses negosiasi damai yang diharapkan bisa kembali berjalan.

Jika tensi politik mulai mereda, tekanan terhadap pasar keuangan domestik diprediksi akan ikut melandai secara bertahap.

Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 74 poin atau sekitar 0,42 persen.

>>> IHSG Menguat 1,49% di Sesi I, Saham Konglomerat Jadi Primadona

Angka Rp17.879 per dolar AS tersebut tercatat sebagai salah satu level terlemah rupiah sepanjang tahun berjalan ini.