Nilai tukar rupiah menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada perdagangan Selasa (2/6) pagi.

Mata uang Garuda sempat merosot ke posisi Rp17.879 per dolar AS, mendekati angka psikologis Rp18.000.

>>> BPS: Inflasi Mei 2026 Naik 3,08 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama

Sejumlah pengamat pasar uang menilai potensi rupiah untuk melampaui level Rp18.000 masih sangat terbuka lebar.

Namun, pelemahan drastis diprediksi tidak akan terjadi secara instan tanpa adanya pemicu sentimen negatif baru.

Analisis Potensi Pelemahan Rupiah

Lukman Leong, Analis Mata Uang dari DOO Financial Futures, berpendapat bahwa kemungkinan menembus Rp18.000 pada hari ini tergolong kecil.

Ia mencatat masih ada jarak sekitar 100 poin lebih sebelum menyentuh angka krusial tersebut.

Menurut pandangannya, pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari mendatang akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi terbaru.

Stabilitas rupiah juga bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang saat ini tengah memanas.

Lukman menambahkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, skenario buruk bisa terjadi lebih cepat.

Bukan tidak mungkin dalam pekan ini nilai tukar rupiah benar-benar akan menembus level Rp18.000 per dolar AS.

Dampak Konflik Global Terhadap Mata Uang

Ariston Tjendra, pengamat mata uang, menyebutkan bahwa ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi motor utama pelemahan.

>>> Cara Cek Penerima PIP Mei 2026 Lewat HP, Bantuan Resmi Cair ke Rekening

Konflik yang kembali meruncing ini menciptakan sentimen negatif di pasar keuangan global.

Ketidakhadiran kesepakatan damai antara kedua negara tersebut berdampak langsung pada kekhawatiran pasokan energi dunia.

Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah yang secara tidak langsung memberikan tekanan tambahan pada posisi rupiah.