G7 tidak secara terang-terangan meninggalkan perdagangan bebas, tetapi menciptakan definisi baru yang tunduk pada keamanan ekonomi.

>>> Kalah di Final UCL 2026, Arsenal Tetap Cairkan Bonus Finansial Tertinggi Sepanjang Sejarah

Mineral Kritis sebagai Aset Strategis

Komoditas mineral kritis menjadi bukti hilangnya batasan antara perdagangan, industri, energi, dan keamanan.

Nikel, litium, kobalt, dan grafit kini dianggap sebagai aset strategis negara.

Logam tanah jarang juga krusial bagi industri pertahanan dan teknologi tinggi.

Logika perdagangan mineral tidak lagi mengikuti pasar bebas, melainkan siapa yang berhak akses dan dalam aliansi politik apa.

Inilah mengapa isu mineral dibahas oleh Menteri Keuangan, bukan hanya Menteri Perdagangan.

Mineral tersebut adalah fondasi transisi energi, semikonduktor, dan daya saing masa depan.

G7 juga mengakui risiko volatilitas pasar obligasi dan utang publik yang meningkat.

Namun, respons kali ini lebih nasionalis dan kurang terkoordinasi dibanding krisis 2008.

Negara seperti Brasil, India, Kenya, dan Korea Selatan diundang sebagai mitra, namun langkah ini dinilai mencari legitimasi politik.

G7 menyadari pembahasan ketidakseimbangan global sulit diterima tanpa perwakilan negara berkembang.

Forum ini digunakan untuk menyamakan posisi negara maju sebelum dibawa ke forum lebih besar.

Pertemuan Paris tidak menandai kematian globalisasi, tetapi lonceng kematian bagi klaim netralitas globalisasi.

Aturan ekonomi dunia kini dirancang untuk mengelola risiko geopolitik, bukan hanya efisiensi.

Netralitas globalisasi dianggap hilang akibat dominasi kepentingan politik tertentu.

Ke depannya, perlu dilihat siapa yang berwenang menentukan sektor bebas dan negara kawan.

>>> Momen Haru Marquinhos Hibur Gabriel Magalhaes Usai Gagal Penalti di Final Liga Champions

Proses perumusan aturan harus lebih demokratis demi tata kelola dunia yang adil.