Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G7 di Paris pada 18-19 Mei 2026 menjadi sorotan dunia.

Agenda utama bukan lagi krisis keuangan global, melainkan ketahanan rantai pasok mineral kritis dan pengurangan ketergantungan strategis.

>>> Xpeng G6 Pro Dibanderol Rp 670 Jutaan, Langsung Banyak Dicari

Pergeseran Fokus Ekonomi Global

Perubahan agenda ini menandai transisi tata kelola ekonomi dunia menuju babak baru.

Meski G7 masih menggunakan istilah perdagangan bebas, isi agenda menunjukkan realitas berbeda.

Perdagangan bebas kini dikendalikan oleh faktor keamanan ekonomi dan pertimbangan geopolitik.

Globalisasi tidak dihentikan, tetapi diseleksi secara ketat, terutama terkait China, teknologi tinggi, dan mineral strategis.

Tiga Prioritas Presidensi Prancis

Pertemuan ini bagian dari Finance Track G7 2026 di bawah kepemimpinan Prancis.

Presidensi Prancis menetapkan tiga prioritas: mengurangi ketidakseimbangan global, membangun kemitraan dengan negara berkembang, dan memperkuat pasokan mineral kritis.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyebut China kekurangan konsumsi, AS terlalu banyak konsumsi, dan Eropa kurang investasi.

Ketiga pola ini menciptakan tekanan sistemik terhadap tatanan global.

Namun, G7 melihat ketidakseimbangan bukan hanya dari sisi makroekonomi, tetapi juga sebagai alat persaingan industri.

Surplus China dipandang sebagai bukti kapasitas industri berlebihan dan subsidi negara.

Isu ini bermetamorfosis menjadi strategi pembendungan geoekonomi.

Komunike Menteri Perdagangan G7 pada 6 Mei 2026 menegaskan kekhawatiran terhadap praktik non-pasar yang menyebabkan distorsi dan kelebihan kapasitas global.

Poin utama kekhawatiran meliputi dampak negatif kebijakan non-pasar, kelebihan kapasitas struktural, meningkatnya ketergantungan ekonomi, dan efek limpahan yang merugikan.

G7 mulai memprioritaskan keamanan nasional di atas efisiensi pasar.

Komunike 19 Mei 2026 menegaskan ketidakseimbangan transaksi berjalan juga dipengaruhi kebijakan fiskal dan sektoral.