Jemaah haji asal Indonesia mulai menjalani rangkaian lempar jumrah di Mina setelah menyelesaikan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.

Di tengah padatnya aktivitas, mereka memberikan ulasan tentang pengalaman tinggal di tenda Mina.

>>> PSI Sentil Guntur Romli: Komentar Miring Usai Jokowi Cabut Kenikmatan PDIP di 2026

Kenyamanan fasilitas di area tersebut menjadi sorotan utama karena berpengaruh besar terhadap kondisi fisik jemaah. Sejumlah jemaah mengapresiasi upaya pemerintah memberikan layanan terbaik, meski tetap ada catatan perbaikan.

Testimoni Positif Jemaah

Pariem Pirmawati, jemaah asal Palembang dari kloter PLM 4, membagikan pengalamannya saat lempar jumrah pada Hari Tasyrik 11 Zulhijah.

Ia menyelesaikan lempar jumrah Aqabah sebelumnya.

Pada hari tersebut, ia melanjutkan kewajiban melempar jumrah di tiga pilar: Ula, Wustha, dan Aqabah. Pariem memberikan apresiasi tinggi terhadap fasilitas tempat tinggal di Mina.

Fasilitas yang paling disukai meliputi konsumsi berlimpah, pendingin ruangan maksimal, tempat tidur nyaman, dan kesiapan petugas.

Pariem merasa sangat terbantu karena bisa beristirahat di tengah jadwal ibadah yang padat.

Evaluasi Penataan Tenda

Sri Amini, jemaah kloter SOC 60 asal Klaten, menyoroti penataan tenda di Arafah dan Mina yang perlu dievaluasi.

Rombongannya beberapa kali harus berpindah lokasi tenda.

>>> Trump Desak Revisi Kesepakatan Nuklir Iran, Soroti Ancaman Uranium di 2026

Kondisi ini menyebabkan jemaah sering terpisah dari kelompok aslinya dan berbagi ruang melebihi kapasitas.

Beberapa catatan untuk musim haji mendatang meliputi manajemen kapasitas, stabilitas lokasi, variasi menu makanan, dan integrasi rombongan.

Kepadatan di dalam tenda mulai berkurang setelah sebagian jemaah memilih Nafar Awal atau kembali lebih awal ke Makkah.