Tiga bulan setelah perang AS-Israel melawan Iran dimulai, suasana di Israel berubah dari optimisme menjadi kecemasan. Presiden AS Donald Trump justru mendorong kesepakatan baru dengan Teheran.

Langkah Trump itu dinilai dapat menjadi kegagalan strategis terbesar bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

>>> Persib Bandung Terancam Kehilangan Federico Barba yang Dilirik Klub Yunani

Ketika perang dimulai pada Februari lalu, banyak pihak di Israel menilai operasi bersama AS sebagai puncak keberhasilan politik Netanyahu.

Serangan besar terhadap Iran kala itu diyakini mampu menghancurkan ambisi nuklir Teheran. Namun setelah hampir tiga bulan, pemerintahan Iran tetap bertahan.

Trump kini fokus mengejar kesepakatan baru dengan Teheran, termasuk upaya membuka kembali Selat Hormuz. Bocoran isi awal kesepakatan itu langsung memicu kekhawatiran di Israel.

Sejumlah analis dan media setempat menilai pemerintah Netanyahu gagal membaca arah strategi Washington.

"Israel sepenuhnya tunduk pada keputusan presiden Amerika yang berubah-ubah, kosong, dan putus asa," tulis analis Nahum Barnea di harian Yedioth Ahronoth.

Barnea menjadi salah satu komentator paling keras dalam mengkritik kesepakatan tersebut. Ia juga memperingatkan jika kesepakatan baru itu benar-benar disahkan, dampaknya justru lebih merugikan Israel.

"Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan menjadi lebih buruk. Miliaran dolar yang akan mengalir ke kantong rezim Iran akan sangat membantu mereka," ujarnya.

Sejak awal konflik, sejumlah elite keamanan Israel sebenarnya telah memperingatkan Netanyahu. Ambisi mendorong perubahan rezim di Iran berpotensi merusak hubungan strategis Israel dengan AS.

Mereka juga menilai perang berisiko dimanfaatkan Netanyahu untuk kepentingan politik domestik menjelang pemilu Israel.

Kini, jajak pendapat di AS menunjukkan konflik Iran justru berpotensi mengganggu hubungan strategis jangka panjang antara Washington dan Tel Aviv.