Jakarta, CNN Indonesia -- Kalimat seperti "Dia sudah bisa bawa motor kok" atau "sudah sering nyetir sendiri, aman-aman saja" sering menjadi dalih orang tua memberikan kebebasan berkendara kepada remaja dan anak di bawah umur.

Padahal, kemampuan mengendalikan kendaraan tidak selalu berarti siap menghadapi risiko di jalan. Dari sudut pandang keselamatan dan psikologi, berkendara bukan hanya soal bisa gas, rem, dan belok.

>>> Gempa M5,4 Guncang Buol, Satu Pasien RS Tewas

Ada banyak faktor lain yang menentukan apakah seseorang benar-benar aman di jalan, khususnya pada anak dan remaja yang sebagian besar faktor ini masih dalam tahap perkembangan.

Faktor Psikologis dan Pengalaman

Risiko kecelakaan lebih tinggi pada remaja. Data global menunjukkan risiko ini bukan sekadar asumsi.

Melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian utama pada kelompok usia 5-29 tahun.

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat pengemudi usia 16-19 tahun memiliki risiko kecelakaan jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.

Bahkan, tingkat kecelakaan fatal per mil pada remaja atau anak di bawah umur ini hampir tiga kali lipat dibanding pengemudi usia di atas 20 tahun.

Ternyata masalah utamanya bukan sekadar kemampuan teknis.

Secara psikologis, remaja masih berada dalam fase perkembangan otak, terutama pada bagian yang mengatur pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan penilaian risiko.

Remaja cenderung lebih impulsif, lebih sensitif terhadap imbalan instan, lebih mudah terpengaruh teman sebaya, dan belum konsisten dalam menilai bahaya.

Akibatnya, mereka mungkin merasa percaya diri di jalan, tapi belum tentu mampu membaca situasi kompleks, seperti memperkirakan kecepatan kendaraan lain, mengantisipasi bahaya mendadak, atau menahan dorongan untuk mengambil risiko.