Ambisi Microsoft membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berdampak signifikan terhadap lingkungan. Perusahaan melaporkan emisi gas rumah kaca mereka melonjak 27 persen dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan 2026 Environmental Data Fact Sheet, total emisi Microsoft mencapai 21,1 juta metrik ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

>>> Kronologi Kecelakaan Maut di Pantura Indramayu, 13 Tewas Usai Hajatan

Angka ini naik dari 16,7 juta metrik ton CO2e pada periode sebelumnya.

Microsoft menjelaskan bahwa lonjakan emisi terutama berasal dari konsumsi listrik untuk operasional data center.

Emisi Scope 2, yang berasal dari listrik yang dibeli perusahaan, melonjak hampir 10 kali lipat.

Konsumsi Air Meningkat Drastis

Selain emisi karbon, kebutuhan air Microsoft juga meningkat seiring bertambahnya kapasitas infrastruktur AI. Sepanjang 2025, konsumsi air perusahaan naik 22 persen menjadi sekitar 8.170 megaliter.

Sekitar separuh penggunaan air tersebut berasal dari wilayah yang dikategorikan memiliki tingkat tekanan air tinggi hingga sangat tinggi.

Artinya, daerah tersebut sudah kekurangan air.

Lonjakan konsumsi air ini memperkuat kekhawatiran bahwa pertumbuhan AI tidak hanya membutuhkan daya komputasi besar, tetapi juga energi dan air dalam jumlah signifikan.

>>> Robot Humanoid Agibot Rakit 17 Ribu Tablet dalam Live Streaming 6 Hari

Perubahan Kebijakan Iklim Microsoft

Peningkatan emisi karbon juga dipengaruhi perubahan kebijakan perusahaan pada Februari 2025. Microsoft menghentikan pembelian sertifikat energi dan kredit penghilangan karbon yang sebelumnya digunakan untuk mengimbangi emisi.

Langkah tersebut diklaim sebagai bagian dari komitmen terhadap aksi iklim yang lebih transparan. Namun, konsekuensinya membuat Microsoft untuk sementara tidak lagi berada dalam posisi netral karbon.

Tantangan Global Pusat Data

Laporan Microsoft muncul setelah Google dan Amazon juga melaporkan kenaikan emisi masing-masing sebesar 18 persen dan 16 persen akibat pembangunan infrastruktur AI.

Ketiganya mengakui bahwa ekspansi pusat data membuat upaya pengurangan emisi karbon semakin sulit.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya mengingatkan bahwa konsumsi energi pusat data di seluruh dunia kini sangat besar.

Hanya sekitar 10 negara yang menggunakan energi lebih banyak daripada gabungan pusat data global.

PBB mendorong seluruh perusahaan AI besar menggunakan energi terbarukan untuk seluruh pusat data mereka paling lambat pada 2030.

>>> Rating TV per Senin, 13Juli 2026: D'Academy 8 Tahan Gempuran Piala Dunia, Sinetron SCTV Kuasai Layar Kaca!

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menekankan pentingnya kejujuran mengenai biaya lingkungan yang ditimbulkan AI saat ini.