Selain faktor psikologis, pengalaman berkendara juga sangat berpengaruh. Risiko kecelakaan paling tinggi terjadi pada tahun pertama seseorang mulai mengemudi, terutama dalam beberapa bulan pertama.

>>> Momen Inggris Kalah Adu Penalti dari Argentina, Beckham Kartu Merah

Meski terlihat sudah bisa, pengalaman menghadapi berbagai kondisi jalan, macet, hujan, dan situasi darurat masih sangat terbatas.

Risiko ini pun bisa meningkat ketika remaja berkendara bersama teman sebaya.

Mengutip dari American Academy of Pediatrics (AAP), kehadiran satu penumpang remaja saja dapat meningkatkan risiko kecelakaan hingga sekitar 40 persen.

Jika jumlah penumpang bertambah, risikonya bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Secara psikologis, kehadiran teman bisa memicu perilaku lebih berani, mulai dari ngebut, melanggar aturan, hingga mengemudi lebih agresif.

Selain itu, ada beberapa faktor yang sering memperburuk risiko pada remaja, seperti mengemudi di malam hari, kurang tidur, distraksi seperti menggunakan ponsel, ngobrol, atau menyetel musik keras, serta tidak memakai helm atau sabuk pengaman secara konsisten.

Motor Lebih Berbahaya

Jika berbicara soal sepeda motor, risikonya bisa lebih tinggi lagi. Berbeda dengan mobil, pengendara motor lebih rentan terhadap benturan langsung.

WHO menyebut penggunaan helm yang benar dapat menurunkan risiko kematian hingga enam kali lipat dan risiko cedera otak hingga 74 persen.

Namun, pada praktiknya, kepatuhan penggunaan helm di kalangan remaja masih sering rendah.

Dari luar, remaja mungkin terlihat percaya diri. Tapi secara ilmiah, kemampuan menilai risiko dan mengendalikan diri biasanya berkembang lebih lambat dibanding rasa sudah bisa.

>>> Zelensky Rombak Kabinet, Copot PM yang Baru Setahun Menjabat

Karena itu, pembatasan usia, latihan bertahap, hingga pendampingan bukan sekadar formalitas. Semua itu dirancang untuk menurunkan risiko kecelakaan yang memang nyata dan sudah terbukti dalam berbagai penelitian.