Jagat media sosial kembali dibuat gaduh oleh polemik yang melibatkan dunia medis dan publik figur. Kali ini, sorotan tajam warganet tertuju pada jaringan klinik kecantikan ternama, ERHA, dan salah satu tenaga medisnya, dr. Ayu Kusumaningrum.
 
Konflik ini bermula dari dugaan tindakan body shaming yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap selebgram Amanda Zahra. Kasus ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar Amanda, tetapi juga memicu debat luas mengenai etika profesi dokter di era digital, batasan privasi pasien, serta standar pelayanan klinik kecantikan terhadap kepercayaan masyarakat.
 
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai duduk perkara, kronologi lengkap, hingga respons tegas dari manajemen ERHA yang menjadi pelajaran berharga bagi dunia kesehatan dan kecantikan di Indonesia.
 

Awal Mula: Unggahan yang Memancing Amarah

Perbincangan panas ini bermula ketika sebuah tangkapan layar (screenshot) unggahan media sosial milik dr. Ayu Kusumaningrum beredar luas di kalangan warganet. Dalam unggahan tersebut, dokter yang diketahui berpraktik di salah satu cabang jaringan klinik ERHA ini melontarkan komentar pedas terkait penampilan Amanda Zahra.
 
Tanpa tedeng aling-aling, dr. Ayu menyinggung fisik Amanda dengan narasi yang menyiratkan bahwa wajah Amanda tampak "tidak asli" dan mengaitkannya dengan dugaan kuat adanya prosedur bedah estetika atau operasi plastik. Lebih jauh lagi, unggahan tersebut sarat akan muatan body shaming, di mana cara Amanda menampilkan dirinya di media sosial dikritik habis-habisan.
 
Unggahan ini sontak memicu reaksi keras. Warganet menilai tindakan seorang dokter—yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan empati—turut serta dalam "menghakimi" penampilan seseorang di ruang publik adalah sebuah pelanggaran moral. Publik menilai komentar tersebut tidak mencerminkan sikap profesional seorang tenaga medis, melainkan lebih menyerupai perilaku perundungan siber (cyberbullying).
 
 

Update Terbaru