Menurut laporan The New York Times, Israel bahkan tidak dilibatkan dalam proses negosiasi terbaru antara AS dan Iran.

Pemerintah Israel disebut tidak memperoleh pembaruan terkait perkembangan pembicaraan.

Kesepakatan yang tengah dinegosiasikan pemerintahan Trump memang disebut masih membatasi program nuklir Iran.

Namun banyak pihak di Israel menilai pembatasan tersebut lebih longgar dibanding kesepakatan era Presiden Barack Obama pada 2015, yakni Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Netanyahu selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap JCPOA. Kini sejumlah analis Israel justru menilai kesepakatan baru Trump lebih buruk.

"Kesepakatan yang sedang muncul jauh lebih buruk dibanding yang sebelumnya," tulis analis Ben Caspit di surat kabar Maariv.

Ia memperingatkan perang dan kesepakatan gencatan senjata saat ini justru dapat mempercepat program nuklir Iran.

>>> Harga Emas Perhiasan 28 Mei 2026 Stabil di Raja Emas Indonesia

"Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi," tulis Caspit, menggunakan nama panggilan Netanyahu.

Caspit juga menyoroti terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Menurutnya, kematian Khamenei menghilangkan sosok penting dalam pengembangan program nuklir Iran. Namun sekaligus menghilangkan figur yang selama ini dianggap menahan tahap akhir pengembangan senjata nuklir.

Isu lain yang sejak awal dijadikan alasan perang oleh Israel, seperti jaringan proksi Iran di kawasan dan program rudal balistik Teheran, justru tidak masuk dalam agenda negosiasi terbaru.

Situasi itu memicu tekanan dari kelompok sayap kanan ekstrem dalam koalisi Netanyahu.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mendesak pemerintah menolak tekanan Trump.

"Sudah waktunya perdana menteri memukul meja Trump dan memberitahunya bahwa kita kembali berperang di Libanon," tulisnya melalui media sosial.